Ngainun Naim
Perjalanan masa merapuhkan badan, membarui hasrat keinginan,
mendekatkan kematian dan menjauhkan angan-angan. Keberhasilan di dalamnya
memayahkan sebagaimana kegagalan pun memayahkan juga.
Kata-kata di atas
dimuat di halaman 45 buku Nahjul Balâghah Mutiara Kearifan Ali bin Abi
Thalib r.a. (Jakarta Selatan: Noura, 2017). Bagi saya, kata-kata tersebut
bukan sebatas kata demi kata dan kalimat demi kalimat yang tertuang di lembaran
kertas. Di dalamnya ada makna, konteks, dan relevansi yang aktual dalam
kehidupan.
Satu hal yang semakin
hilang di era sekarang ini adalah kesempatan untuk merenung. Kehidupan terkondisikan
menjadi serba cepat seolah tanpa jeda. Banyak hal yang hilang dalam proses
perjalanan kehidupan.
Banyak orang yang
sekarang semakin merasa gersang secara spiritual. Semakin banyak orang sejahtera
secara ekonomi tetapi belum tentu merasa sejahtera secara psikologi.
Tetiba saya menemukan
sebuah kutipan dari buku filsafat yang rasanya nyambung. Penulisnya seorang
ahli filsafat. Namanya Jennifer McCartney yang menulis buku monumental, The
Little Book of Sloth Philosophy (2021). Ia menulis:
Melangkah secara perlahan dan menikmati hidup. Kamu tidak
hanya kehilangan kesempatan untuk melihat pemandangan karena berjalan terlalu
cepat tetapi juga kehilangan kesempatan untuk merasakan ke mana akan pergi,
mengapa, dan untuk apa [153].
Hari Rabo sore, 18
Maret 2026, saya meluncur dari rumah Trenggalek menuju kediaman Ibuk di Desa
Sambidoplang Sumbergempol. Tujuannya adalah memenuhi permintaan beliau untuk mengantar
ziarah ke beberapa makam leluhur. Kalau makam Almarhum Bapak dan Adik nomor lima
cukup sering saya ziarahi. Setiap ada kesempatan ke Sambidoplang, selalu saya
usahakan ziarah.
Perjalanan dari
Trenggalek menuju Sambidoplang secara umum lancar meskipun kepadatan mulai
terasa, khususnya di Kota Tulungagung. Memang beberapa hari lagi akan lebaran. Wajar
jika mobilitas masyarakat meningkat tajam sepanjang perjalanan dan di tempat-tempat
tertentu.
Pukul 15.20 saya
sampai di rumah Sambidoplang. Ibuk sedang bersiap sementara saya menunaikan
shalat asar. Begitu beres, kami berangkat.
Di dalam mobil ada saya,
Ibuk, dan Kikin. Rute yang kami tempuh nyaris tidak pernah berubah dari waktu
ke waktu. Menjelang Ramadan lalu kami juga melakukan ritual sama. Bedanya kami
hanya berdoa di dalam mobil dan tidak turun ke makam. Kala itu hujan turun
dengan derasnya. Kondisi semacam ini tidak memungkinkan bagi kami, khususnya
Ibuk, untuk ziarah di dekat pusara.
Tujuan pertama ke
makam Desa Sambijajar Sumbergempol. Di sini dimakamkan beberapa kerabat dekat. Bapak
angkat Ibuk dan orang tuanya—Mbah Mustamar dan Mbah Sabari—dimakamkan di sini. Makam
ini dulu menjadi pemakaman umum dari beberapa desa, termasuk Desa Bendiljati Kulon
yang menjadi tempat tinggal keluarga Ibuk. Ini menjadi penjelasan mengapa Mbah
Mustamar dan Mbah Sabari dimakamkan di sini.
Situasi sore itu
masih panas, bahkan masih sangat panas. Untung di mobil ada payung yang bisa
digunakan untuk berteduh ketika berdoa.
Di dekat pusara, kami
membaca Surat Al-Fatihah dan Surat Yasin. Tidak terlalu lama ritual selesai. Kami
segera beranjak menuju makam berikutnya.
Di utara rel kereta
api Desa Bendiljati Wetan Sumbergempol ada makam. Jalan menuju makam adalah
pinggiran sungai. Cukup sempit. Tahun lalu mobil bisa sampai di dekat makam
yang sejauh sekitar 300 meter dari jalan raya. Tahun ini tidak memungkinkan
karena ada beberapa bagian jalan yang amblas. Jadinya mobil diparkir di rumah
penduduk yang terletak di sebelah timur makam.
Di makam ini ada Mbah
Hj. Sringatun. Beliau Ibu kandung dari Ibuk saya. Juga dimakamkan saudara-saudara
dari Mbah Hj. Sringatun. Makam ini termasuk belum terlalu lama. Saya ingat
persis ketika dulu Mbah Hj. Sringatun dimakamkan, belum terlalu banyak makam.
Ritual yang kami
jalankan sama dengan di makam Sambijajar. Selesai berdoa kami menuju makam
selanjutnya yaitu Makam Lak-Alung Ngunut. Lokasinya ada di utara Pondok
Pesantren Ngunut. Di makam ini ada Ayahnya Ibuk. Juga kakak kandung Ibuk dan
suaminya, Hj. Amin Masithoh dan H. Suhadak.
Makam ini dulu sangat
padat dan penuh kijing. Tampaknya sekarang kijing banyak yang dibongkar
sehingga membuat makam terasa lebih lebar. Di makam ini tidak hanya umat Islam
yang dimakamkan. Bisa dikata ini makam multikultural. Penganut selain Islam
juga dimakamkan di sini.
Hari sudah sore. Agenda
pokok sudah usai. Saya segera mengarahkan mobil pulang karena ada agenda
berikutnya, yaitu menghadiri undangan buka puasa di rumah Sahabat Lukman Hakim
yang ada di Desa Balesono Kecamatan Ngunut.
Sampai di rumah saya
segera berwudhu lalu pamit ke Ibuk untuk melanjutkan perjalanan ke rumah
Lukman. Jarak dari rumah Ibuk hanya kisaran 5 menit perjalanan.
Saya pernah ke rumah
Lukman beberapa bulan lalu. Tapi itu malam hari. Jadi tidak banyak bisa
mengamati situasi di sekitar.
Kali ini saya sampai
di Lokasi pukul 17.25. Masih cukup terang benderang. Ternyata di utara rumah
Lukman adalah SPPG yang parkirnya cukup luas. Di sini telah terparkir beberapa
kendaraan.
Saya disambut anaknya
Lukman lalu menuju ke rumah. Di sana sudah ada Saiful Kahfi yang berada di
depan rumah. Saya pun segera masuk. Ternyata sudah banyak yang hadir. Ada Cak
Din Koirudin, Gus Fahmi Arafat, Kang Karmen, dan beberapa sahabat lintas
generasi.
Perbincangan pun
cukup gayeng. Temanya random. Lebih banyak guyon. Bagi saya, ini sungguh
membahagiakan. Jika tidak ada momentum semacam ini, jarang kami bisa bersua.
Adzan magrib
terdengar. Kami segera berbuka. Menunya sangat variatif. Hanya ada dua rasa: enak
dan enak banget. Sungguh berbuka puasa yang mengesankan.
Usai berbuka kami shalat
magrib di mushola yang lokasinya persis di selatan rumah Lukman. Kebetulan Imamnya
saya kenal. Namanya Ali, alumni UIN Tulungagung.
Seluruh agenda telah
tertunai. Saya pamit, meskipun masih ada beberapa sahabat yang infonya sedang
dalam perjalanan menuju rumah Lukman. Rumah saya Trenggalek yang membutuhkan lebih
dari satu jam untuk sampai rumah.
Kisah perjalanan pada
Rabo sore itu substansinya sama, yaitu doa dan silaturrahmi. Ziarah makam
adalah mengirim doa kepada yang telah berpulang. Juga silaturrahmi spiritual
karena kita masih diberikan anugerah oleh Allah untuk bisa ziarah. Sepanjang masih
mungkin, ziarah ke makam keluarga harus diperjuangkan.
Undangan buka bersama
adalah doa dalam maknanya yang luas. Doa bahwa kami saling dipersatukan dan
dipertemukan dalam harapan kebajikan. Juga silaturrahmi fisik karena kami bisa
bersua secara langsung.
Trenggalek, 19 Maret 2026


Rutinitas spiritual yg ngangeni, ya Prof...dan paling sakral di awal dan penghujung Ramadan
BalasHapusZiarah makam untuk tetap terkoneksi dengan yang sudah berpulang, buka bersama agar kehangatan dengan yang masih ada tidak kehilangan ruang.
BalasHapusCatatan yang inspiratif Prof