Hari Sabtu
tanggal 21 Februari 2026 pukul 20.10 WIB ada berita duka di Grup WA STAIN TA
Angkatan 1994. Berita dikirim oleh Sahabat Wahid.
Inna lillahi wainna ilaihi rooji'uun telah meninggal ( Bapak Riduhan, ayah dari sahabat kita SUMITRO). Semoga mendapatkan maghfirah dan
ampunan-Nya dan menerima amal ibadahnya.
Arwahnya ditempatkan disisiNya (di Surga-Nya Allah SWT). Keluarga yg
ditinggalkan diberikan kesabaran, kekuatan dan ketabahan, AAMIIN YRA. Lahul
Faatihah.
Saya
sendiri baru hari Minggu pagi di kisaran pukul 07.00 mencari informasi terkait
berita ini. Saya berkirim WA ke Wahid. Tidak segera ada respon. Rupanya beliau
sedang ada kegiatan. Tidak seberapa lama kemudian beliau menelepon.
Beberapa
info disampaikan oleh Wahid, mulai dari waktu wafat, lokasi rumah duka, dan
hal-ikhwal lainnya. Informasi ini penting sebagai modal untuk menuju lokasi
rumah duka.
Saya
sendiri sudah memutuskan untuk pergi takziah. Beberapa agenda saya selesaikan
dulu. Ini penting agar semua bisa berjalan, meskipun tidak maksimal.
Pukul
11.10—bersama Anak Mbarep—saya meluncur menuju lokasi takziah. Perjalanan dari
rumah sampai lokasi rumah duka sekitar 2,5 jam. Cukup jauh. Meskipun sepanjang
jalan hujan turun dengan deras, perjalanan pergi pulang secara umum lancar.
Saya
sampaikan ke Anak Mbarep bahwa takziah itu merupakan ibadah yang sangat
penting. Tidak ada orang yang menghendaki anggota keluarganya meninggal. Semua
berharap sehat. Namun hidup itu dinamis. Ada sehat, sakit, dan ada juga yang
meninggal. Justru karena itulah kita berupaya hadir ke rumah duka.
Takziah memiliki
beberapa keutamaan. Pertama, mendapatkan pahala. Ini terlihat sederhana
tetapi ternyata tidak mudah melakukannya. Perlu usaha lebih untuk mengetahui,
memahami, menyadari, dan menggerakkan diri dalam konteks hadir di rumah duka.
Kedua, takziah merupakan amalan utama. Saya bukan orang yang
bisa takziah dalam setiap berita kematian. Namun saya berusaha ke arah itu.
Jujur saya terinspirasi dengan beberapa kawan yang selalu hadir di rumah duka
sepanjang ia mendengar kabar. Tidak ada yang namanya malas atau alasan. Spirit
ini layak untuk diteladani, meskipun jelas tidak mudah.
Tentu masih
banyak keutamaan lain yang bisa ditelusuri. Satu hal yang pasti, takziah itu
merupakan ibadah yang penting untuk diperjuangkan.
Selain
keutamaan, takziah itu memiliki banyak hikmah. Pertama, silaturrahim.
Saat takziah, kita mengunjungi keluarga yang mengalami duka. Di sana, selain
keluarga yang berduka, mungkin kita bisa bersua dengan orang yang lain. Dialog
dan saling sapa merupakan momentum penting hidup yang memiliki banyak manfaat.
Kedua, perhatian. Salah satu karakter penting manusia adalah
senang jika mendapatkan perhatian. Bahkan, dalam kerangka kekinian, perhatian
ini diupayakan. Anak muda menyebutnya sebagai validasi. Perhatian itu sah saja
sepanjang dilakukan secara natural dan dalam bingkai ibadah, sebagaimana
takziah.
Ketiga, kehadiran kita merupakan hal yang menggembirakan bagi
tuan rumah. Orang itu perlu untuk saling menghibur. Takziah, dalam bingkai ini,
juga merupakan upaya untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan agar sabar atas
musibah yang mereka alami.
Keempat, mendoakan yang wafat. Doa itu ibadah penting, khususnya
bagi yang wafat. Melalui lantunan doa diharapkan yang wafat husnul khatimah,
dosa-dosanya diampuni, dan pahalanya diterima di sisi Allah SWT.
Kelima, pembelajaran hidup. Aneka kisah dan hikmah—sepanjang kita
mau membuka hati—akan hadir dalam aktivitas takziah. Kematian merupakan
kemestian. Tugas kita adalah bagaimana menghadirkan kebaikan dalam aneka
bentuknya agar menjadi modal positif saat ajal menjemput kita.
* * *
Ada sebuah
kutipan penting dari buku Arvan Pradiansyah, Life is Beautiful (Jakarta:
Elex Media Komputindo, 2012, 35) yang menyatakan bahwa kita sekarang ini hidup
di zaman serba cepat. Hidup seolah kompetisi tiada henti tanpa tahu kapan titik
berhentinya. Implikasinya, kita lupa atau sengaja melupakan terhadap misi
sebenarnya hidup di dunia ini. Kesadaran akan misi hidup baru muncul ketika
fisik tidak lagi sempurna atau bahkan ajal menjelang.
Pendapat
Arvan Pradiansyah ini terasa menemukan momentumnya pada saya untuk direnungkan
dan diaktualisasikan dalam laku hidup sehari-hari. Saya semakin menyadari bahwa
hidup tidak harus selalu mengikuti ritme yang selalu kompetitif dan serba
cepat. Justru sekarang ini, di usia setengah abad lebih, penting untuk semakin
melambankan jalan hidup.
Pada
halaman 143 dari bukunya Arvan menulis bahwa kita seringkali berpikir secara
terbalik yaitu: have>do>be. Kita berusaha memiliki lebih banyak
uang (have) agar kita dapat melakukan apa yang kita ingin dilakukan (do),
dan mengira kalau itu tercapai akan membuat kita lebih bahagia (be).
Padahal yang perlu kita lakukan adalah sebaliknya yaitu: be>do>have. Yang
utama dan pertama adalah menjadi diri sendiri (be), kemudian melakukan
apa yang harus dilakukan (do), agar dengan begitu kita memiliki apa yang
kita inginkan (have).
Takziah,
dalam sudut pandang ini, adalah upaya menyadari kedirian kita. Jika dilakukan
dengan sepenuh kesadaran, akan menghadirkan kebahagiaan. Takziah merupakan
aktualisasi perjuangan dalam kerangka menjadi orang yang lebih baik. Kekayaan
yang penting, selain harta, adalah kekayaan jiwa. Takziah merupakan upaya untuk
memperkaya jiwa.
Tulungagung, 24 Februari
2026








