Sabtu, 31 Oktober 2026

Shalat Jumat di Masjid Al-Alam Kendari


Ngainun Naim

 

Tepat pukul 11.00 WITA sesi yang saya isi diakhiri. Sesi selanjutnya diisi oleh Corazon Lepago Ocden, Ph.D, seorang fellow researcher dari Cordielerra Career Development College Philipina.

Saya segera beranjak keluar ruangan. Di depan kantor FTIK UIN Kendari, Mas Dillah sudah siap. Dia terlihat keren dan shaleh dengan kopiahnya.

Agenda kami adalah shalat jumat di Masjid Al-Alam Kendari. Masjid ini cukup terkenal dan menjadi ikon Kendari. Masjid yang lokasinya di bibir pantai Kota Kendari tersebut dikenal juga dengan nama Masjid Terapung. Mungkin karena posisi masjid yang ada di atas laut.

Perlahan mobil keluar dari kampus UIN Kendari dan menyusuri jalanan kota yang cukup terik. Kemarau tahun ini cukup panjang. Belum ada hujan sama sekali.

Suasana belum terlalu banyak jamaah saat kami sampai di masjid. Saya segera mengambil air wudhu lalu masuk masjid.

Tidak sampai 20 menit adzan dilantunkan. Saya amati ternyata separuh masjid telah terisi oleh jamaah.

Ada hal menarik dalam khotbah jumat yang saya catat yaitu tema yang dibahas. Khatib menyampaikan bahwa kemarau sekarang ini telah berlangsung cukup lama. Suasana terasa sangat terik. Ada banyak efek yang dirasakan bersamaan dengan kemarau yang sedemikian panjang. Air semakin sulit. Debit air di berbagai tempat surut. Penghasilan nelayan berkurang.



Khatib mengidentifikasi berbagai implikasi dari kondisi ini. Selanjutnya khatib mengajak jamaah untuk menjadikan fenomena kemarau panjang ini sebagai bahan muhasabah. Melalui cara semacam ini diharapkan kita tidak berputus asa karena kita memiliki Allah.

Dalam kemarau panjang, ada ujian dan hikmah. Ujian bagi kita untuk menjalani kehidupan yang tidak selalu mudah. Hikmah karena di dalamnya ada aneka pelajaran kehidupan.

Khatib menjelaskan bahwa usaha manusia semata tidak cukup untuk menghadapi keadaan semacam ini. Kita butuh Allah. Sebagai orang beriman, kita harus menjadikan Allah sebagai titik orientasi semua hal.

Hujan sesungguhnya merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Namun karena keserakahan manusia yang tidak arif mengelola alam, hujan kadang berubah menjadi bencana.

Realitas kemarau tidak boleh disikapi dengan keluh kesah. Juga jangan pasrah tanpa melakukan apa pun. Khatib menjelaskan bahwa pasrah pada musibah itu sikap orang lemah. Sebagai orang beriman, doa harus terus dipanjatkan agar Allah menurunkan rahmat.

Selain doa, harus juga diikuti dengan melakukan kebaikan. Kebaikan Allah yang tidak dibalas dengan kebaikan sesama manusia bisa menjadi sebab kemarau.

Saya merenungkan konteks pernyataan terakhir ini. Tetiba saya teringat bagaimana bumi Sulawesi digali seolah tanpa kendali. Aneka tambang tersebar di berbagai wilayah. Apakah perilaku mereka sejalan dengan topik yang sedang dibahas khatib?

Menurut saya, tema khotbah kali ini kontekstual. Tentu saja tidak semua yang disampaikan oleh khatib saya setuju. Ada beberapa bagian yang perlu dikritisi. Namun pembahasan tema yang sejalan dengan realitas yang tengah berlangsung terasa lebih membumi.

Usai shalat jumat, saya amati sekeliling masjid. Di kejauhan, laut hijau terentang. Sungguh sebuah pemandangan yang indah. Di sisi yang lain, gunung terlihat rimbun meskipun konon di dalamnya tidak lagi utuh karena tambang.

Satu demi satu jamaah meninggalkan masjid. Saat keluar masjid, saya bersua Mas Dillah. Saya ajak swafoto sebagai kenangan.

 

Surabaya, 30 Oktober 2026

Jumat, 30 Oktober 2026

Meskipun Hanya Dua Jam


 Ngainun Naim

Jalanan yang menghubungkan antara Kendari menuju Kolaka Sulawesi Tenggara gelap gulita. Magrib baru saja menjelang tetapi sudah seperti larut malam. Mas Dillah, sopir yang menemani saya, menjelaskan bahwa pemadaman bergilir cukup sering terjadi.

Malam itu, Rabo 28 Oktober 2026, saya dalam perjalanan menuju rumah Bibi. Namanya Mak Yah. Beliau adik kandung Bapak yang transmigrasi ke Konawe bersama keluarganya pada awal tahun 1980-an.

Ketika beberapa waktu lalu Dr. Hj. Imelda Wahyuni, Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Kendari, menghubungi saya untuk mengisi acara, saya sanggupi. Selain mengisi acara, saya memiliki kesempatan silaturrahmi ke rumah Bibi.

Beberapa tahun lalu saya sebenarnya sudah pernah ke rumah beliau. Namun kesempatan silaturrahmi harus dimanfaatkan karena namanya kesempatan itu mahal sekali. Belum tentu setiap waktu ada kesempatan.

Begitu Lion Air JT 722 yang mengantarkan saya dari Surabaya menuju Kendari landing di Bandara Haluoleo, saya sudah disambut oleh Bu Dekan dan Mas Dillah. Dalam perjalanan kami berbincang. Juga ditanya tentang rencana ke rumah Bibi yang memang pernah saya sampaikan via WA.

Setelah mempertimbangkan berbagai hal, kami putuskan untuk check in di Zahra Syariah Hotel Kendari. Setelah mandi, saya keluar kamar lalu bersama Mas Dillah menuju rumah makan.

Makanan khas Sulawesi adalah ikan laut. Ada yang berbentuk kuah. Ada yang bakar. Rasanya nikmat sekali.

Makan usai. Kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Wawosolo Kecamatan Wonggeduku Kabupaten Konawe. Jalanan berliku dengan pegunungan di kanan kiri mengingatkan saya pada jalanan antara Trenggalek Ponorogo. Ada kemiripin.

Listrik mati ternyata tidak hanya di lokasi tertentu. Sepanjang perjalanan gelap gulita.

Saya tidak bisa melihat pemandangan. Jika pun ada sinar lampu, sepertinya memakai jenset atau lampu yang tidak dialiri listrik.

Satu jam lebih perjalanan ketika mobil mulai masuk gang menuju rumah Bibi. Meskipun gelap gulita, saya masih lumayan ingat rumah beliau, mulai gang sampai jalanan ke rumahnya.

Begitu sampai kami disambut anak cucu Mak Yah. Semua anggota keluarga besar hadir, meskipun mereka tinggal di tempat yang agak berjauhan.

Di tengah sinaran lampu yang tidak terlalu terang, kami berbincang hangat. Ada rasa yang sulit diungkapkan. Ada kebersamaan yang mahal karena persoalan jarak dan waktu.

Setengah jam kemudian listrik menyala. Tentu ini menghadirkan suasana yang berbeda. Lebih terang, lebih gembira, dan membuat suasana semakin hangat.

Dua jam itu ternyata sangat cepat. Mas Dillah datang tepat pukul 21.00 WIB. Sesungguhnya saya masih ingin berlama-lama tetapi kondisi tidak memungkinkan. Saya harus segera pamit. Masih ada agenda lain yang harus saya Jalani esok hari.

Meski sesungguhnya ingin berlama tetapi saya harus segera pamit. Dua jam sudah lumayan dan harus disyukuri. Semoga lain waktu ada kesempatan untuk Kembali silaturrahmi.

 

Kendari, 30 Oktober 2026

 

Jumat, 23 Oktober 2026

Suara Memantul



Pernahkah Anda mendengar suara memantul? Atau justru Anda sering uji coba memantulkan suara di ruangan yang potensial?

Masa kecil kita biasanya banyak memiliki pengalaman unik. Suara memantul, dulu di masa kecil, saya alami saat pergi ke tepian jurang. Kami berteriak lalu suara memantul terdengar.

Hal semacam ini tidak hanya saya yang melakukannya tetapi juga teman-teman. Rasanya Sebagian besar dari kami melakukannya.

Catatan ini, meskipun tentang suara memantul, namun konteksnya berbeda. Catatan ini berkaitan dengan amal perbuatan kita.

Salah satu kebiasaan saya adalah membaca buku-buku agama. Salah satunya buku tafsir. Tidak sering. Hanya kalau ada kesempatan saja.

Saya menemukan penjelasan menarik tentang suara memantul ini bukan dalam konteks fisika namun dalam konteks ilmu tafsir.

Dalam Tafsir Al Misbah Jilid 15 karya Prof. Dr. M. Quraish Shihab, saya menemukan penjelasan bahwa apa yang kita lakukan terhadap orang lain itu ibarat suara memantul.

Penjelasan ini penting untuk evaluasi perbuatan kita sehari-hari. Sebagai manusia kita tidak selalu berbuat baik. Kadang juga melakukan keburukan.

Apa pun yang kita lakukan akan ada balasannya. Sebagaimana suara memantul, kebaikan akan ada pantulan kebaikan. Demikian juga dengan keburukan.

Tugas kita sebagai manusia adalah terus berikhtiar menjadi manusia yang lebih baik setiap hari. Memang ini bukan pekerjaan mudah tetapi harus terus dilakukan sebagai aktualisasi keislaman yang berkualitas.

 

Trenggalek, 15.10.2026

Senin, 14 September 2026

Kemajuan dan Titik Akhir

Ngainun Naim

 

Catatan ini merupakan refleksi atas kegiatan pembukaan Pelatihan Kader Lanjut (PKL) yang dilaksanakan oleh PC PMII Tulungagung pada Hari Minggu sore tanggal 13 September 2026. Dalam kegiatan tersebut saya mencatat banyak hal menarik dari para sahabat, baik dalam perbincangan maupun dalam sambutan demi sambutan.

Saya datang ke lokasi sekitar 14.00 WIB. Sesaat kemudian satu demi satu undangan lain datang, termasuk Ketua Umum IKA PMII Tulungagung, H. Khoiruddin Abbas, M.Si. Seperti biasa, begitu datang beliau langsung meminta difoto.

Kami semua tersenyum. Saya pun nyeletuk. “Jika dalam filsafat ada Cogito Ergo Sum yang artinya aku berpikir maka aku ada, bagi Cak Din berlaku Potographo Ergo Sum yang artinya aku berfoto maka aku ada”.

Tawa kami pun pecah. Sesungguhnya hal-hal semacam ini yang mengesankan. Saling gojlok namun sesungguhnya kami saling mendukung satu sama lain. Keutuhan organisasi, berdasarkan riset yang pernah saya baca, dipengaruhi oleh salah satunya tradisi humor.

Pada sesi acara, banyak hal menarik yang saya catat. Ketua Umum PC PMII Tulungagung, M. Ahsanur Rizqi, misalnya menyampaikan bahwa kegiatan PKL ini sangat penting. Melalui kegiatan ini diharapkan melahirkan kader PMII yang berkualitas.

Hal yang sama juga disampaikan oleh beberapa Sahabat lain yang memberikan sambutan. Substansinya adalah acara PKL ini penting dalam konteks keberlangsungan organisasi.

Hal lain yang juga menjadi topik bahasan adalah kesiapan menghadapi dinamika kehidupan yang semakin hari semakin kompleks. Pembahasan tentang topik ini penting sebagai pengetahuan dan juga bahan untuk menyusun langkah dalam menghadapi masa depan.

Perspektif M. Hasbullah terkait masa depan penting sebagai bahan untuk memperkaya wawasan. Menurut Hasbullah, masa depan memiliki beberapa kriteria, antara lain, hiperkompetisi, suksesi revolusi teknologi, dislokasi, dan konflik sosial. Satu-satu cara untuk menghadapinya adalah dengan kreativitas (M. Hasbullah, 2015).

Coba cermati beberapa kriteria di atas. Di masa depan, bukan hanya kompetisi tetapi hiperkompetisi. Ini berarti kompetisi tingkat tinggi dan sangat ketat.

Teknologi telah mengalami perkembangan yang sangat cepat. Perkembangan ini harus dipahami dan ditentukan respon aktif kreatifnya.

Dislokasi adalah kondisi ketika seseorang mengalami persoalan karena terasing dengan keadaan. Jika ini tidak diatasi bisa menimbulkan kondisi jiwa tidak sehat. Juga bisa berimplikasi pada konflik sosial.

Pada titik inilah maka kita perlu ikut memberikan kontribusi. Kondisi kehidupan sosial kemasyarakatan kita yang sekarang ini penuh persoalan sangat mungkin karena kita tidak ikut berkontribusi memberikan solusi sesuai dengan kapasitas kita masing-masing (Azra, 2020).

Kata kunci yang diperlukan adalah kreativitas. Tanpa kreativitas, tantangan dalam kehidupan semakin berat. Justru karena itulah PKL bisa diposisikan sebagai media menyemai benih-benih kreativitas.

Namun demikian ber-PMII itu tidak selamanya. Kaderisasi itu harus jelas ukurannya. Ini penting agar jalan hidup tidak abstrak tetapi konkrit dan terukur. Dalam bahasa Gus Fahmi Arafat, proses itu harus ada titik akhirnya. Begitu.

 

Tulungagung, 14-9-2026

Minggu, 13 September 2026

Moral, Kelembagaan, dan Pendayagunaan Akal

Ngainun Naim

Sebuah undangan masuk ke Grup WA Mabincab PMII Tulungagung pada Sabtu, 12 September 2026. Intinya kami pengurus Majelis Pembina Cabang diharapkan hadir pada pembukaan Pelatihan Kader Lanjutan (PKL) 2026 yang dilaksanakan oleh PC PMII Tulungagung. Lokasi kegiatan di Aula UPT Balai Latihan Kerja Pulosari Ngunut Tulungagung.

Undangan ini menarik. Sengaja saya membuat catatan singkat sebagai bahan renungan yang bisa dibaca oleh para kader maupun alumni PMII di mana pun berada. Persoalan setuju atau tidak dengan isinya itu terserah kepada masing-masing.

Saya percaya bahwa tulisan memiliki tingkat persebaran yang lebih luas. Juga memiliki tingkat keawetan yang lebih dibandingkan berbincang di sebuah ruangan.

Pilihan membuat tulisan ini sesungguhnya juga sebagai upaya merawat kebiasaan saja. Sayang jika gagasan yang muncul, meskipun sederhana, hilang begitu saja. Jika ditulis tentu ada jejaknya yang bisa dibaca di saat berbeda.

 

Moral

Bangsa Indonesia hari-hari ini sedang menghadapi berbagai persoalan yang cukup pelik. Lingkungan rusak berat, korupsi merajalela, pelanggaran hukum terjadi di mana-mana, dan aneka persoalan yang semakin hari semakin memusingkan.

Sejauh ini belum ada harapan yang menggembirakan akan kehidupan sosial kemasyarakatan. Akademisi, mahasiswa, agamawan, aktivis, dan para penggerak perubahan masih kebingungan memahami realitas dan menentukan arah transformasi. Semuanya saling menunggu, saling berharap, dan mengidealkan kehidupan bersama yang lebih baik. Langkah-langkah perbaikan masih seputar alur simulakra.

Saya sepakat dengan pendapat yang menyebutkan bahwa muara dari semua persoalan ini sesungguhnya adalah moral (Khozin, 2017). Moral yang bobrok teraktualisasi dalam aneka ketidakberesan yang secara kasat mata kita saksikan.

PMII, dalam konteks ini, seharusnya menjadi penjaga moral. Jangan justru memperkeruh keadaan dengan melakukan tindakan, gerakan, dan pemikiran yang membuat moral semakin keropos.

 

Kelembagaan

Pelatihan Kader Lanjutan (PKL) adalah ikhtiar strategis yang perlu untuk terus dirawat. Ada banyak manfaat yang bisa diperoleh dari kegiatan semacam ini.

Adanya kegiatan semacam ini menandakan bahwa pendidikan kaderisasi berjalan dengan baik. Semakin banyak kader yang ikut kegiatan, semakin bagus. Oleh karena itu perlu diupayakan untuk mengirim sebanyak mungkin kader dalam kegiatan-kegiatan semacam ini.

Organisasi yang sehat itu terdiri dari tiga pilar. Pertama, regulasi. Regulasi itu dibuat untuk dipatuhi, bukan dijadikan sebagai sarana pragmatis tertentu. Semua sahabat di level apa pun harus memahami, mematuhi, dan menjadikan regulasi sebagai aturan yang ditaati bersama.

Kedua, norma. Dalam konteks ini, PMII sesungguhnya hidup dari semangat belajar dan pemahaman kolektif atas peran masing-masing. Semua warga pergerakan penting. Masing-masing perlu saling mendukung dan menguatkan.

Ketiga, budaya. PMII seharusnya bertumpu pada konsensus dan rasa saling percaya. Ini yang menjadi fondasi kohesivitas warga (Fathul Wahid, 2026). Jangan ada saling curiga. Kepercayaan perlu dibangun bersama dan juga dirawat bersama.

 

Pendayagunaan Akal

Zaman telah berubah dengan sangat cepat. Maka tidak ada pilihan selain harus memahami perubahan secara baik. Perubahan harus direspon secara aktif dan kreatif.

Dalam konteks ini, PMII perlu mendayagunakan potensi akalnya untuk kemajuan bersama. Jika ditelusuri, nuktah-nuktah tentang pendayagunaan akal untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan pengikatan kualitas hidup dalam ajaran Islam cukup banyak. pertama, Allah memerintahkan agar manusia senantiasa berpikir dan menggunakan pikirannya dalam memecahkan persoalan-persoalan hidup yang dihadapi.

Kedua, Allah telah melakukan “liberalisasi” dalam bidang ilmu. Semua manusia (Muslim) wajib mencari ilmu.

Ketiga, dengan akal manusia diperintahkan untuk membuktikan kekuasaan Allah dengan cara mengkaji dan mengelola alam demi keperluan hidupnya, namun dilarang berbuat kerusakan dan pertumpahan darah.

Keempat, manusia diperintahkan untuk fantasyiru fil ardl, mengembara di muka bumi, dalam rangka mencari ilmu pengetahuan.

Kelima, kecintaan terhadap informasi dan pengetahuan merupakan aktualisasi terhadap kegiatan belajar (A. Malik Fadjar, 2025).

Saya sampaikan selamat ber-PKL. Semoga PMII semakin maju dan terus berkembang. Juga memberikan kontribusi pada individu, organisasi, dan masyarakat secara luas. Amin.

 

Trenggalek, 13 September 2026

 

Kamis, 19 Maret 2026

Mendoakan yang Berpulang, Menghadiri Undangan

 

Ngainun Naim

 


Perjalanan masa merapuhkan badan, membarui hasrat keinginan, mendekatkan kematian dan menjauhkan angan-angan. Keberhasilan di dalamnya memayahkan sebagaimana kegagalan pun memayahkan juga.

 

Kata-kata di atas dimuat di halaman 45 buku Nahjul Balâghah Mutiara Kearifan Ali bin Abi Thalib r.a. (Jakarta Selatan: Noura, 2017). Bagi saya, kata-kata tersebut bukan sebatas kata demi kata dan kalimat demi kalimat yang tertuang di lembaran kertas. Di dalamnya ada makna, konteks, dan relevansi yang aktual dalam kehidupan.

Satu hal yang semakin hilang di era sekarang ini adalah kesempatan untuk merenung. Kehidupan terkondisikan menjadi serba cepat seolah tanpa jeda. Banyak hal yang hilang dalam proses perjalanan kehidupan.

Banyak orang yang sekarang semakin merasa gersang secara spiritual. Semakin banyak orang sejahtera secara ekonomi tetapi belum tentu merasa sejahtera secara psikologi.

Tetiba saya menemukan sebuah kutipan dari buku filsafat yang rasanya nyambung. Penulisnya seorang ahli filsafat. Namanya Jennifer McCartney yang menulis buku monumental, The Little Book of Sloth Philosophy (2021). Ia menulis:

 

Melangkah secara perlahan dan menikmati hidup. Kamu tidak hanya kehilangan kesempatan untuk melihat pemandangan karena berjalan terlalu cepat tetapi juga kehilangan kesempatan untuk merasakan ke mana akan pergi, mengapa, dan untuk apa [153].

 

Hari Rabo sore, 18 Maret 2026, saya meluncur dari rumah Trenggalek menuju kediaman Ibuk di Desa Sambidoplang Sumbergempol. Tujuannya adalah memenuhi permintaan beliau untuk mengantar ziarah ke beberapa makam leluhur. Kalau makam Almarhum Bapak dan Adik nomor lima cukup sering saya ziarahi. Setiap ada kesempatan ke Sambidoplang, selalu saya usahakan ziarah.

Perjalanan dari Trenggalek menuju Sambidoplang secara umum lancar meskipun kepadatan mulai terasa, khususnya di Kota Tulungagung. Memang beberapa hari lagi akan lebaran. Wajar jika mobilitas masyarakat meningkat tajam sepanjang perjalanan dan di tempat-tempat tertentu.

Pukul 15.20 saya sampai di rumah Sambidoplang. Ibuk sedang bersiap sementara saya menunaikan shalat asar. Begitu beres, kami berangkat.

Di dalam mobil ada saya, Ibuk, dan Kikin. Rute yang kami tempuh nyaris tidak pernah berubah dari waktu ke waktu. Menjelang Ramadan lalu kami juga melakukan ritual sama. Bedanya kami hanya berdoa di dalam mobil dan tidak turun ke makam. Kala itu hujan turun dengan derasnya. Kondisi semacam ini tidak memungkinkan bagi kami, khususnya Ibuk, untuk ziarah di dekat pusara.

Tujuan pertama ke makam Desa Sambijajar Sumbergempol. Di sini dimakamkan beberapa kerabat dekat. Bapak angkat Ibuk dan orang tuanya—Mbah Mustamar dan Mbah Sabari—dimakamkan di sini. Makam ini dulu menjadi pemakaman umum dari beberapa desa, termasuk Desa Bendiljati Kulon yang menjadi tempat tinggal keluarga Ibuk. Ini menjadi penjelasan mengapa Mbah Mustamar dan Mbah Sabari dimakamkan di sini.

Situasi sore itu masih panas, bahkan masih sangat panas. Untung di mobil ada payung yang bisa digunakan untuk berteduh ketika berdoa.

Di dekat pusara, kami membaca Surat Al-Fatihah dan Surat Yasin. Tidak terlalu lama ritual selesai. Kami segera beranjak menuju makam berikutnya.

Di utara rel kereta api Desa Bendiljati Wetan Sumbergempol ada makam. Jalan menuju makam adalah pinggiran sungai. Cukup sempit. Tahun lalu mobil bisa sampai di dekat makam yang sejauh sekitar 300 meter dari jalan raya. Tahun ini tidak memungkinkan karena ada beberapa bagian jalan yang amblas. Jadinya mobil diparkir di rumah penduduk yang terletak di sebelah timur makam.

Di makam ini ada Mbah Hj. Sringatun. Beliau Ibu kandung dari Ibuk saya. Juga dimakamkan saudara-saudara dari Mbah Hj. Sringatun. Makam ini termasuk belum terlalu lama. Saya ingat persis ketika dulu Mbah Hj. Sringatun dimakamkan, belum terlalu banyak makam.

Ritual yang kami jalankan sama dengan di makam Sambijajar. Selesai berdoa kami menuju makam selanjutnya yaitu Makam Lak-Alung Ngunut. Lokasinya ada di utara Pondok Pesantren Ngunut. Di makam ini ada Ayahnya Ibuk. Juga kakak kandung Ibuk dan suaminya, Hj. Amin Masithoh dan H. Suhadak.

Makam ini dulu sangat padat dan penuh kijing. Tampaknya sekarang kijing banyak yang dibongkar sehingga membuat makam terasa lebih lebar. Di makam ini tidak hanya umat Islam yang dimakamkan. Bisa dikata ini makam multikultural. Penganut selain Islam juga dimakamkan di sini.



Hari sudah sore. Agenda pokok sudah usai. Saya segera mengarahkan mobil pulang karena ada agenda berikutnya, yaitu menghadiri undangan buka puasa di rumah Sahabat Lukman Hakim yang ada di Desa Balesono Kecamatan Ngunut.

Sampai di rumah saya segera berwudhu lalu pamit ke Ibuk untuk melanjutkan perjalanan ke rumah Lukman. Jarak dari rumah Ibuk hanya kisaran 5 menit perjalanan.

Saya pernah ke rumah Lukman beberapa bulan lalu. Tapi itu malam hari. Jadi tidak banyak bisa mengamati situasi di sekitar.

Kali ini saya sampai di Lokasi pukul 17.25. Masih cukup terang benderang. Ternyata di utara rumah Lukman adalah SPPG yang parkirnya cukup luas. Di sini telah terparkir beberapa kendaraan.

Saya disambut anaknya Lukman lalu menuju ke rumah. Di sana sudah ada Saiful Kahfi yang berada di depan rumah. Saya pun segera masuk. Ternyata sudah banyak yang hadir. Ada Cak Din Koirudin, Gus Fahmi Arafat, Kang Karmen, dan beberapa sahabat lintas generasi.

Perbincangan pun cukup gayeng. Temanya random. Lebih banyak guyon. Bagi saya, ini sungguh membahagiakan. Jika tidak ada momentum semacam ini, jarang kami bisa bersua.

Adzan magrib terdengar. Kami segera berbuka. Menunya sangat variatif. Hanya ada dua rasa: enak dan enak banget. Sungguh berbuka puasa yang mengesankan.

Usai berbuka kami shalat magrib di mushola yang lokasinya persis di selatan rumah Lukman. Kebetulan Imamnya saya kenal. Namanya Ali, alumni UIN Tulungagung.

Seluruh agenda telah tertunai. Saya pamit, meskipun masih ada beberapa sahabat yang infonya sedang dalam perjalanan menuju rumah Lukman. Rumah saya Trenggalek yang membutuhkan lebih dari satu jam untuk sampai rumah.

Kisah perjalanan pada Rabo sore itu substansinya sama, yaitu doa dan silaturrahmi. Ziarah makam adalah mengirim doa kepada yang telah berpulang. Juga silaturrahmi spiritual karena kita masih diberikan anugerah oleh Allah untuk bisa ziarah. Sepanjang masih mungkin, ziarah ke makam keluarga harus diperjuangkan.

Undangan buka bersama adalah doa dalam maknanya yang luas. Doa bahwa kami saling dipersatukan dan dipertemukan dalam harapan kebajikan. Juga silaturrahmi fisik karena kami bisa bersua secara langsung.

 

Trenggalek, 19 Maret 2026

 

 

Rabu, 25 Februari 2026

Takziah dan Visi Hidup

 


Hari Sabtu tanggal 21 Februari 2026 pukul 20.10 WIB ada berita duka di Grup WA STAIN TA Angkatan 1994. Berita dikirim oleh Sahabat Wahid.

Inna lillahi wainna ilaihi rooji'uun telah meninggal ( Bapak Riduhan,  ayah dari sahabat kita  SUMITRO). Semoga mendapatkan maghfirah dan ampunan-Nya  dan menerima amal ibadahnya. Arwahnya ditempatkan disisiNya (di Surga-Nya Allah SWT). Keluarga yg ditinggalkan diberikan kesabaran, kekuatan dan ketabahan, AAMIIN YRA. Lahul Faatihah.

Saya sendiri baru hari Minggu pagi di kisaran pukul 07.00 mencari informasi terkait berita ini. Saya berkirim WA ke Wahid. Tidak segera ada respon. Rupanya beliau sedang ada kegiatan. Tidak seberapa lama kemudian beliau menelepon.

Beberapa info disampaikan oleh Wahid, mulai dari waktu wafat, lokasi rumah duka, dan hal-ikhwal lainnya. Informasi ini penting sebagai modal untuk menuju lokasi rumah duka.

Saya sendiri sudah memutuskan untuk pergi takziah. Beberapa agenda saya selesaikan dulu. Ini penting agar semua bisa berjalan, meskipun tidak maksimal.

Pukul 11.10—bersama Anak Mbarep—saya meluncur menuju lokasi takziah. Perjalanan dari rumah sampai lokasi rumah duka sekitar 2,5 jam. Cukup jauh. Meskipun sepanjang jalan hujan turun dengan deras, perjalanan pergi pulang secara umum lancar.

Saya sampaikan ke Anak Mbarep bahwa takziah itu merupakan ibadah yang sangat penting. Tidak ada orang yang menghendaki anggota keluarganya meninggal. Semua berharap sehat. Namun hidup itu dinamis. Ada sehat, sakit, dan ada juga yang meninggal. Justru karena itulah kita berupaya hadir ke rumah duka.

Takziah memiliki beberapa keutamaan. Pertama, mendapatkan pahala. Ini terlihat sederhana tetapi ternyata tidak mudah melakukannya. Perlu usaha lebih untuk mengetahui, memahami, menyadari, dan menggerakkan diri dalam konteks hadir di rumah duka.

Kedua, takziah merupakan amalan utama. Saya bukan orang yang bisa takziah dalam setiap berita kematian. Namun saya berusaha ke arah itu. Jujur saya terinspirasi dengan beberapa kawan yang selalu hadir di rumah duka sepanjang ia mendengar kabar. Tidak ada yang namanya malas atau alasan. Spirit ini layak untuk diteladani, meskipun jelas tidak mudah.

Tentu masih banyak keutamaan lain yang bisa ditelusuri. Satu hal yang pasti, takziah itu merupakan ibadah yang penting untuk diperjuangkan.

Selain keutamaan, takziah itu memiliki banyak hikmah. Pertama, silaturrahim. Saat takziah, kita mengunjungi keluarga yang mengalami duka. Di sana, selain keluarga yang berduka, mungkin kita bisa bersua dengan orang yang lain. Dialog dan saling sapa merupakan momentum penting hidup yang memiliki banyak manfaat.

Kedua, perhatian. Salah satu karakter penting manusia adalah senang jika mendapatkan perhatian. Bahkan, dalam kerangka kekinian, perhatian ini diupayakan. Anak muda menyebutnya sebagai validasi. Perhatian itu sah saja sepanjang dilakukan secara natural dan dalam bingkai ibadah, sebagaimana takziah.

Ketiga, kehadiran kita merupakan hal yang menggembirakan bagi tuan rumah. Orang itu perlu untuk saling menghibur. Takziah, dalam bingkai ini, juga merupakan upaya untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan agar sabar atas musibah yang mereka alami.

Keempat, mendoakan yang wafat. Doa itu ibadah penting, khususnya bagi yang wafat. Melalui lantunan doa diharapkan yang wafat husnul khatimah, dosa-dosanya diampuni, dan pahalanya diterima di sisi Allah SWT.

Kelima, pembelajaran hidup. Aneka kisah dan hikmah—sepanjang kita mau membuka hati—akan hadir dalam aktivitas takziah. Kematian merupakan kemestian. Tugas kita adalah bagaimana menghadirkan kebaikan dalam aneka bentuknya agar menjadi modal positif saat ajal menjemput kita.

* * *

Ada sebuah kutipan penting dari buku Arvan Pradiansyah, Life is Beautiful (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2012, 35) yang menyatakan bahwa kita sekarang ini hidup di zaman serba cepat. Hidup seolah kompetisi tiada henti tanpa tahu kapan titik berhentinya. Implikasinya, kita lupa atau sengaja melupakan terhadap misi sebenarnya hidup di dunia ini. Kesadaran akan misi hidup baru muncul ketika fisik tidak lagi sempurna atau bahkan ajal menjelang.

Pendapat Arvan Pradiansyah ini terasa menemukan momentumnya pada saya untuk direnungkan dan diaktualisasikan dalam laku hidup sehari-hari. Saya semakin menyadari bahwa hidup tidak harus selalu mengikuti ritme yang selalu kompetitif dan serba cepat. Justru sekarang ini, di usia setengah abad lebih, penting untuk semakin melambankan jalan hidup.

Pada halaman 143 dari bukunya Arvan menulis bahwa kita seringkali berpikir secara terbalik yaitu: have>do>be. Kita berusaha memiliki lebih banyak uang (have) agar kita dapat melakukan apa yang kita ingin dilakukan (do), dan mengira kalau itu tercapai akan membuat kita lebih bahagia (be). Padahal yang perlu kita lakukan adalah sebaliknya yaitu: be>do>have. Yang utama dan pertama adalah menjadi diri sendiri (be), kemudian melakukan apa yang harus dilakukan (do), agar dengan begitu kita memiliki apa yang kita inginkan (have).

Takziah, dalam sudut pandang ini, adalah upaya menyadari kedirian kita. Jika dilakukan dengan sepenuh kesadaran, akan menghadirkan kebahagiaan. Takziah merupakan aktualisasi perjuangan dalam kerangka menjadi orang yang lebih baik. Kekayaan yang penting, selain harta, adalah kekayaan jiwa. Takziah merupakan upaya untuk memperkaya jiwa.

 

Tulungagung, 24 Februari 2026

 

Rabu, 11 Februari 2026

Kematian dan Pembelajaran


 Tidak lengkap lagi

Ngainun Naim

 

Berat tetapi harus belajar mengikhlaskan. Ikhlas itu mudah diucapkan atau ditulis tetapi sungguh tidak mudah untuk dijalani. Maka yang bisa dilakukan adalah dengan belajar. Ya, pelan tapi pasti diupayakan untuk ikhlas sampai ketika ikhlas dalam maknanya yang substantif bisa dirasakan.

Paragraf pembuka ini penting saya tulis sebagai pengingat diri. Kehilangan salah seorang adik—Ngainun Nisak—merupakan pukulan psikologis yang cukup telak. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika adik kelima ini pergi dengan begitu cepatnya.

Tetiba pikiran melayang. Serpihan kenangan berkelebat dari momentum ke momentum. Tidak utuh tetapi selaksa video singkat dalam aplikasi kontemporer.

Saya menyayangi semua adik. Sebagai sulung dari enam bersaudara, saya memberikan perhatian, bantuan, dan doa tidak putus pada mereka semua: Niam, Rohmah, Nikmah, Nisak, dan Yaqin. Tentu tidak sama antara satu dengan yang lainnya karena memang tidak mungkin sama dalam semua hal.

Hal yang sama juga dilakukan oleh kami bersaudara. Saling dukung, saling bantu, dan saling mendoakan.

Kami berenam memiliki karakter yang tidak sama. Ada keragaman di antara kami. Namun darah nasab dari Bapak dan Ibuk yang menyatukan kami.  Dan ini menjadi ikatan batin yang sangat kuat di antara kami.

Masa kecil kami sangat indah dalam keterbatasan. Apa yang hari ini kami alami dan jalani adalah bagian dari hasil didikan Bapak dan Ibuk.

 

Ceria

Nisak anaknya ceria. Senyumnya selalu merekah. Di mana ada Nisak, di situ ada keriuhan.

Saya ingat ia lahir di bulan Ramadan. Karena itu Mbah Toha Arif mengusulkan agar di belakang namanya ada tambahan Al-Qodriyah. Namun usulan itu rupanya sebatas usulan. Jadilah namanya mirip dengan kami. Nama depan Ngainun. Di belakang nama Nisak tidak ada tambahannya.

Dulu, dia menjadi sasaran bully kami para saudaranya. Entah siapa yang memulai. Karena warna kulitnya yang agak gelap, dia dibilang anak titipan. “Anaknya Mbok Mut”, seorang famili yang tinggal di Puser Pucanglaban.

Ketika sekolah, ia cukup moncer. Prestasinya lumayan baik. Prestasi ini merupakan buah dari ketekunannya belajar.

Dulu, ketika di bangku MAN 1 Tulungagung, bersama timnya menjadi juara LKTI tingkat provinsi. Sebuah prestasi yang tidak sederhana.

Kuliahnya di STAIN Tulungagung mengambil Jurusan Bahasa Inggris. Ia lulus tahun 2013.

Episode selanjutnya relatif standar. Bekerja, berumah tangga, dan memiliki anak.

Nisak hidup bahagia bersama suami—Danang Pristian—dan si kecil Danish Rasyadan. Mereka tinggal di Perumahan Puri Permata Tulungagung.

Kebahagiaan ini terkoyak dengan sakitnya yang mendadak. Berbagia ikhtiar untuk kesembuhan—medis dan non medis—sudah dilaksanakan. Namun takdir menentukan Nisak berpulang pada Subuh 29 Januari 2026.

Pembelajaran

Meski tahu kematian merupakan kemestian, namun pergi dengan sangat cepat sungguh menyesakkan dada. Kesedihan itu manusiawi tetapi tidak boleh berlanjut. Perspektif positif harus dimunculkan agar sadar akan takdir dan ikhlas menerimanya.

Saya menemukan ada beberapa dimensi pembelajaran dari wafatnya Nisak. Pertama, pembelajaran tentang persaudaraan. Kami berenam berdiaspora ke beberapa tempat. Nikmah tinggal di Indragiri Hulu Riau. Niam tinggal di Tangerang. Saya di Trenggalek. Rohmah, Nisak, dan Kikin tinggal di Tulungagung dengan lokasi yang berbeda-beda.

Sehari menjelang Nisak wafat, Nikmah pulang untuk menguatkan adiknya. Niam yang tinggal di Tangerang menyusul pulang dan sampai di rumah pada hari ketiga wafatnya Nisak. Meski dalam suasana duka, ada pembelajaran yang membuat kami bisa bersua. Sebuah momentum yang sangat mahal di tengah dinamika hidup yang harus kami jalani masing-masing. 

Kedua, pembelajaran tentang kebersamaan. Berkumpul di rumah yang membesarkan kami dalam suasana duka adalah pembelajaran tentang makna kebersamaan. Seberat apa pun, ketika ada hal yang membutuhkan, ternyata kami bisa berkumpul.

Ketiga, pembelajaran tentang usaha. Sakit itu ujian hidup. Tidak ada yang tidak pernah mengalaminya. Tugas manusia adalah berusaha hidup sehat. Namun ketika sakit, tugasnya adalah berusaha mengobati. Usaha maksimal sudah kami lakukan untuk kesembuhan Nisak. Namun ketika takdir menentukan batas hidup, tidak ada pilihan selain menerimanya.

Keempat, pembelajaran tentang kehidupan ada batasnya. Ini merupakan hal yang sesungguhnya sudah diketahui oleh setiap orang. Makhluk hidup pasti akan mati. Namun pengetahuan ini akan kurang bermakna karena belum menemukan momentum yang tepat.