Kamis, 19 Maret 2026

Mendoakan yang Berpulang, Menghadiri Undangan

 

Ngainun Naim

 


Perjalanan masa merapuhkan badan, membarui hasrat keinginan, mendekatkan kematian dan menjauhkan angan-angan. Keberhasilan di dalamnya memayahkan sebagaimana kegagalan pun memayahkan juga.

 

Kata-kata di atas dimuat di halaman 45 buku Nahjul Balâghah Mutiara Kearifan Ali bin Abi Thalib r.a. (Jakarta Selatan: Noura, 2017). Bagi saya, kata-kata tersebut bukan sebatas kata demi kata dan kalimat demi kalimat yang tertuang di lembaran kertas. Di dalamnya ada makna, konteks, dan relevansi yang aktual dalam kehidupan.

Satu hal yang semakin hilang di era sekarang ini adalah kesempatan untuk merenung. Kehidupan terkondisikan menjadi serba cepat seolah tanpa jeda. Banyak hal yang hilang dalam proses perjalanan kehidupan.

Banyak orang yang sekarang semakin merasa gersang secara spiritual. Semakin banyak orang sejahtera secara ekonomi tetapi belum tentu merasa sejahtera secara psikologi.

Tetiba saya menemukan sebuah kutipan dari buku filsafat yang rasanya nyambung. Penulisnya seorang ahli filsafat. Namanya Jennifer McCartney yang menulis buku monumental, The Little Book of Sloth Philosophy (2021). Ia menulis:

 

Melangkah secara perlahan dan menikmati hidup. Kamu tidak hanya kehilangan kesempatan untuk melihat pemandangan karena berjalan terlalu cepat tetapi juga kehilangan kesempatan untuk merasakan ke mana akan pergi, mengapa, dan untuk apa [153].

 

Hari Rabo sore, 18 Maret 2026, saya meluncur dari rumah Trenggalek menuju kediaman Ibuk di Desa Sambidoplang Sumbergempol. Tujuannya adalah memenuhi permintaan beliau untuk mengantar ziarah ke beberapa makam leluhur. Kalau makam Almarhum Bapak dan Adik nomor lima cukup sering saya ziarahi. Setiap ada kesempatan ke Sambidoplang, selalu saya usahakan ziarah.

Perjalanan dari Trenggalek menuju Sambidoplang secara umum lancar meskipun kepadatan mulai terasa, khususnya di Kota Tulungagung. Memang beberapa hari lagi akan lebaran. Wajar jika mobilitas masyarakat meningkat tajam sepanjang perjalanan dan di tempat-tempat tertentu.

Pukul 15.20 saya sampai di rumah Sambidoplang. Ibuk sedang bersiap sementara saya menunaikan shalat asar. Begitu beres, kami berangkat.

Di dalam mobil ada saya, Ibuk, dan Kikin. Rute yang kami tempuh nyaris tidak pernah berubah dari waktu ke waktu. Menjelang Ramadan lalu kami juga melakukan ritual sama. Bedanya kami hanya berdoa di dalam mobil dan tidak turun ke makam. Kala itu hujan turun dengan derasnya. Kondisi semacam ini tidak memungkinkan bagi kami, khususnya Ibuk, untuk ziarah di dekat pusara.

Tujuan pertama ke makam Desa Sambijajar Sumbergempol. Di sini dimakamkan beberapa kerabat dekat. Bapak angkat Ibuk dan orang tuanya—Mbah Mustamar dan Mbah Sabari—dimakamkan di sini. Makam ini dulu menjadi pemakaman umum dari beberapa desa, termasuk Desa Bendiljati Kulon yang menjadi tempat tinggal keluarga Ibuk. Ini menjadi penjelasan mengapa Mbah Mustamar dan Mbah Sabari dimakamkan di sini.

Situasi sore itu masih panas, bahkan masih sangat panas. Untung di mobil ada payung yang bisa digunakan untuk berteduh ketika berdoa.

Di dekat pusara, kami membaca Surat Al-Fatihah dan Surat Yasin. Tidak terlalu lama ritual selesai. Kami segera beranjak menuju makam berikutnya.

Di utara rel kereta api Desa Bendiljati Wetan Sumbergempol ada makam. Jalan menuju makam adalah pinggiran sungai. Cukup sempit. Tahun lalu mobil bisa sampai di dekat makam yang sejauh sekitar 300 meter dari jalan raya. Tahun ini tidak memungkinkan karena ada beberapa bagian jalan yang amblas. Jadinya mobil diparkir di rumah penduduk yang terletak di sebelah timur makam.

Di makam ini ada Mbah Hj. Sringatun. Beliau Ibu kandung dari Ibuk saya. Juga dimakamkan saudara-saudara dari Mbah Hj. Sringatun. Makam ini termasuk belum terlalu lama. Saya ingat persis ketika dulu Mbah Hj. Sringatun dimakamkan, belum terlalu banyak makam.

Ritual yang kami jalankan sama dengan di makam Sambijajar. Selesai berdoa kami menuju makam selanjutnya yaitu Makam Lak-Alung Ngunut. Lokasinya ada di utara Pondok Pesantren Ngunut. Di makam ini ada Ayahnya Ibuk. Juga kakak kandung Ibuk dan suaminya, Hj. Amin Masithoh dan H. Suhadak.

Makam ini dulu sangat padat dan penuh kijing. Tampaknya sekarang kijing banyak yang dibongkar sehingga membuat makam terasa lebih lebar. Di makam ini tidak hanya umat Islam yang dimakamkan. Bisa dikata ini makam multikultural. Penganut selain Islam juga dimakamkan di sini.



Hari sudah sore. Agenda pokok sudah usai. Saya segera mengarahkan mobil pulang karena ada agenda berikutnya, yaitu menghadiri undangan buka puasa di rumah Sahabat Lukman Hakim yang ada di Desa Balesono Kecamatan Ngunut.

Sampai di rumah saya segera berwudhu lalu pamit ke Ibuk untuk melanjutkan perjalanan ke rumah Lukman. Jarak dari rumah Ibuk hanya kisaran 5 menit perjalanan.

Saya pernah ke rumah Lukman beberapa bulan lalu. Tapi itu malam hari. Jadi tidak banyak bisa mengamati situasi di sekitar.

Kali ini saya sampai di Lokasi pukul 17.25. Masih cukup terang benderang. Ternyata di utara rumah Lukman adalah SPPG yang parkirnya cukup luas. Di sini telah terparkir beberapa kendaraan.

Saya disambut anaknya Lukman lalu menuju ke rumah. Di sana sudah ada Saiful Kahfi yang berada di depan rumah. Saya pun segera masuk. Ternyata sudah banyak yang hadir. Ada Cak Din Koirudin, Gus Fahmi Arafat, Kang Karmen, dan beberapa sahabat lintas generasi.

Perbincangan pun cukup gayeng. Temanya random. Lebih banyak guyon. Bagi saya, ini sungguh membahagiakan. Jika tidak ada momentum semacam ini, jarang kami bisa bersua.

Adzan magrib terdengar. Kami segera berbuka. Menunya sangat variatif. Hanya ada dua rasa: enak dan enak banget. Sungguh berbuka puasa yang mengesankan.

Usai berbuka kami shalat magrib di mushola yang lokasinya persis di selatan rumah Lukman. Kebetulan Imamnya saya kenal. Namanya Ali, alumni UIN Tulungagung.

Seluruh agenda telah tertunai. Saya pamit, meskipun masih ada beberapa sahabat yang infonya sedang dalam perjalanan menuju rumah Lukman. Rumah saya Trenggalek yang membutuhkan lebih dari satu jam untuk sampai rumah.

Kisah perjalanan pada Rabo sore itu substansinya sama, yaitu doa dan silaturrahmi. Ziarah makam adalah mengirim doa kepada yang telah berpulang. Juga silaturrahmi spiritual karena kita masih diberikan anugerah oleh Allah untuk bisa ziarah. Sepanjang masih mungkin, ziarah ke makam keluarga harus diperjuangkan.

Undangan buka bersama adalah doa dalam maknanya yang luas. Doa bahwa kami saling dipersatukan dan dipertemukan dalam harapan kebajikan. Juga silaturrahmi fisik karena kami bisa bersua secara langsung.

 

Trenggalek, 19 Maret 2026

 

 

1 komentar:

  1. Rutinitas spiritual yg ngangeni, ya Prof...dan paling sakral di awal dan penghujung Ramadan

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Komentar anda sangat saya hargai.