Rabu, 25 Februari 2026

Takziah dan Visi Hidup

 


Hari Sabtu tanggal 21 Februari 2026 pukul 20.10 WIB ada berita duka di Grup WA STAIN TA Angkatan 1994. Berita dikirim oleh Sahabat Wahid.

Inna lillahi wainna ilaihi rooji'uun telah meninggal ( Bapak Riduhan,  ayah dari sahabat kita  SUMITRO). Semoga mendapatkan maghfirah dan ampunan-Nya  dan menerima amal ibadahnya. Arwahnya ditempatkan disisiNya (di Surga-Nya Allah SWT). Keluarga yg ditinggalkan diberikan kesabaran, kekuatan dan ketabahan, AAMIIN YRA. Lahul Faatihah.

Saya sendiri baru hari Minggu pagi di kisaran pukul 07.00 mencari informasi terkait berita ini. Saya berkirim WA ke Wahid. Tidak segera ada respon. Rupanya beliau sedang ada kegiatan. Tidak seberapa lama kemudian beliau menelepon.

Beberapa info disampaikan oleh Wahid, mulai dari waktu wafat, lokasi rumah duka, dan hal-ikhwal lainnya. Informasi ini penting sebagai modal untuk menuju lokasi rumah duka.

Saya sendiri sudah memutuskan untuk pergi takziah. Beberapa agenda saya selesaikan dulu. Ini penting agar semua bisa berjalan, meskipun tidak maksimal.

Pukul 11.10—bersama Anak Mbarep—saya meluncur menuju lokasi takziah. Perjalanan dari rumah sampai lokasi rumah duka sekitar 2,5 jam. Cukup jauh. Meskipun sepanjang jalan hujan turun dengan deras, perjalanan pergi pulang secara umum lancar.

Saya sampaikan ke Anak Mbarep bahwa takziah itu merupakan ibadah yang sangat penting. Tidak ada orang yang menghendaki anggota keluarganya meninggal. Semua berharap sehat. Namun hidup itu dinamis. Ada sehat, sakit, dan ada juga yang meninggal. Justru karena itulah kita berupaya hadir ke rumah duka.

Takziah memiliki beberapa keutamaan. Pertama, mendapatkan pahala. Ini terlihat sederhana tetapi ternyata tidak mudah melakukannya. Perlu usaha lebih untuk mengetahui, memahami, menyadari, dan menggerakkan diri dalam konteks hadir di rumah duka.

Kedua, takziah merupakan amalan utama. Saya bukan orang yang bisa takziah dalam setiap berita kematian. Namun saya berusaha ke arah itu. Jujur saya terinspirasi dengan beberapa kawan yang selalu hadir di rumah duka sepanjang ia mendengar kabar. Tidak ada yang namanya malas atau alasan. Spirit ini layak untuk diteladani, meskipun jelas tidak mudah.

Tentu masih banyak keutamaan lain yang bisa ditelusuri. Satu hal yang pasti, takziah itu merupakan ibadah yang penting untuk diperjuangkan.

Selain keutamaan, takziah itu memiliki banyak hikmah. Pertama, silaturrahim. Saat takziah, kita mengunjungi keluarga yang mengalami duka. Di sana, selain keluarga yang berduka, mungkin kita bisa bersua dengan orang yang lain. Dialog dan saling sapa merupakan momentum penting hidup yang memiliki banyak manfaat.

Kedua, perhatian. Salah satu karakter penting manusia adalah senang jika mendapatkan perhatian. Bahkan, dalam kerangka kekinian, perhatian ini diupayakan. Anak muda menyebutnya sebagai validasi. Perhatian itu sah saja sepanjang dilakukan secara natural dan dalam bingkai ibadah, sebagaimana takziah.

Ketiga, kehadiran kita merupakan hal yang menggembirakan bagi tuan rumah. Orang itu perlu untuk saling menghibur. Takziah, dalam bingkai ini, juga merupakan upaya untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan agar sabar atas musibah yang mereka alami.

Keempat, mendoakan yang wafat. Doa itu ibadah penting, khususnya bagi yang wafat. Melalui lantunan doa diharapkan yang wafat husnul khatimah, dosa-dosanya diampuni, dan pahalanya diterima di sisi Allah SWT.

Kelima, pembelajaran hidup. Aneka kisah dan hikmah—sepanjang kita mau membuka hati—akan hadir dalam aktivitas takziah. Kematian merupakan kemestian. Tugas kita adalah bagaimana menghadirkan kebaikan dalam aneka bentuknya agar menjadi modal positif saat ajal menjemput kita.

* * *

Ada sebuah kutipan penting dari buku Arvan Pradiansyah, Life is Beautiful (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2012, 35) yang menyatakan bahwa kita sekarang ini hidup di zaman serba cepat. Hidup seolah kompetisi tiada henti tanpa tahu kapan titik berhentinya. Implikasinya, kita lupa atau sengaja melupakan terhadap misi sebenarnya hidup di dunia ini. Kesadaran akan misi hidup baru muncul ketika fisik tidak lagi sempurna atau bahkan ajal menjelang.

Pendapat Arvan Pradiansyah ini terasa menemukan momentumnya pada saya untuk direnungkan dan diaktualisasikan dalam laku hidup sehari-hari. Saya semakin menyadari bahwa hidup tidak harus selalu mengikuti ritme yang selalu kompetitif dan serba cepat. Justru sekarang ini, di usia setengah abad lebih, penting untuk semakin melambankan jalan hidup.

Pada halaman 143 dari bukunya Arvan menulis bahwa kita seringkali berpikir secara terbalik yaitu: have>do>be. Kita berusaha memiliki lebih banyak uang (have) agar kita dapat melakukan apa yang kita ingin dilakukan (do), dan mengira kalau itu tercapai akan membuat kita lebih bahagia (be). Padahal yang perlu kita lakukan adalah sebaliknya yaitu: be>do>have. Yang utama dan pertama adalah menjadi diri sendiri (be), kemudian melakukan apa yang harus dilakukan (do), agar dengan begitu kita memiliki apa yang kita inginkan (have).

Takziah, dalam sudut pandang ini, adalah upaya menyadari kedirian kita. Jika dilakukan dengan sepenuh kesadaran, akan menghadirkan kebahagiaan. Takziah merupakan aktualisasi perjuangan dalam kerangka menjadi orang yang lebih baik. Kekayaan yang penting, selain harta, adalah kekayaan jiwa. Takziah merupakan upaya untuk memperkaya jiwa.

 

Tulungagung, 24 Februari 2026

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Komentar anda sangat saya hargai.