Shalat dhuhur sudah usai kami laksanakan. Nur Hasan mengajak kami untuk mengunjungi Khan Khalili. Ini merupakan tempat belanja aneka kebutuhan dan souvenir.
Lokasi Khan Khalili bersebarangan dengan Universitas Al
Azhar. Maka kami pun harus membelah jalan raya Kairo yang sangat padat. Lalu
lintas siang itu sedang sangat sibuk. Selain itu juga kurang teratur. Sejauh
yang saya amati, masih mendingan Indonesia.
Menurut M. Faizi (2025), ciri ketertiban berlalu lintas
itu ditandai—antara lain—dari minimnya pengendara yang membunyikan klakson.
Semakin sering klakson terdengar menunjukkan bahwa lalu lintasnya kurang
teratur.
Saya tetiba teringat ucapan sahabat saya seorang dosen
Brunei Darussalam pada tahun 2019. Bulan Desember 2019 saya mendapatkan
kesempatan berkunjung ke sana. Pengalaman selama beberapa hari di sana saya
tulis dalam buku dengan judul Literasi dari Brunei Darussalam (2020).
Selama di Brunei Darussalam, saya berinteraksi dengan
banyak orang. Salah satunya seorang dosen di Universiti Islam Sulthan Sharif
Ali (UNISSA). Dalam suatu perbincangan, tetiba temanya mengarah ke pengalaman
kunjungan beliau ke Indonesia. Beliau menjelaskan bahwa satu yang sangat
diingat yaitu lalu lintasnya mengerikan.
Saya sulit membayangkan komentar beliau jika hadir dan
menyaksikan lalu lintas di Kairo. Bunyi klakson bertalu-talu. Masing-masing
kendaraan berusaha untuk mendahului. Kondisinya jauh lebih kacau
dibandingkan dengan kondisi di Indonesia.
Di tengah situasi semacam itu kami berjuang untuk
menyeberang. Bukan hal mudah namun menantang. Pelan tapi pasti kami
harus melalui jalanan yang padat merayap dengan aneka jenis kendaraan.
Saya mendampingi Ibuk agar perjalanan lancar. Faktor usia
yang membuat langkah beliau tidak selincah kami yang muda. Saya
menuntunnya secara pelan.
Pasar ini mirip dengan pasar-pasar sebagaimana yang
pernah saya temui di berbagai wilayah di Indonesia. Hal ini mengingatkan saya
pada buku karya Herman Malano (2013: 2) yang menjelaskan bahwa masuk pasar tradisional, bagi kelompok masyarakat
tertentu, dianggap bisa menurunkan gengsi. Mereka lebih memilih berbelanja di
pasar modern yang sarat fasilitas. Beda dengan pasar tradisional yang identik dengan
tempat kumuh, semrawut, becek, bau, dan sumpek.
Ini juga yang saya rasakan di Khan Khalili. Ternyata,
selain soal lalu lintas, ada kemiripan soal pasar tradisional.
Begitu masuk pasar, Ibuk agak mengeluh. Bukan soal
kesan yang positif terkait pasar tradisional, namun terkait dengan kondisi
bangunan yang tidak merata. Jalan masuk pasar beberapa kali harus naik turun tangga.
Bagi beliau, ini sedikit menyisakan persoalan.
Ketika masuk pasar, imajinasi pasar tradisional
menyeruak. Bayangan tanah air menyeruak. Hal ini juga
mengingatkan tentang kenangan di masa lalu.
Dulu, Ibuk pernah berjuang membantu rezeki keluarga
dengan berdagang. Ibuk menjadi pedagang kain. Pasar Bendilwungu dan Pasar
Domasan menjadi tempat beliau berjualan.
Selain itu beliau juga berjualan keliling dari desa ke
desa. Sistemnya bisa kredit, bisa kontan. Saya sendiri dulu acapkali menemani
beliau berjualan dari desa ke desa.
Sebelum masuk lebih jauh ke dalam pasar, Nur Hasan mengajak
ke Masjid Sayyid Husein sebelum melanjutkan perjalanan. Kami berdoa di
dalamnya.
Keluar dari masjid dalam perjalanan menuju Khan Khalili
kami bersua dengan Gus Muid Shohib dan rombongan. Rupanya beliau dalam
perjalanan untuk umroh yang diawali ke Mesir dulu. Ini beda dengan kami yang
Umroh dulu baru ke Mesir.
Kami berbincang sejenak, tanya kabar, dan berfoto bersama.
Tentu ini pertemuan tidak terduga. Biasanya kami bertemu dalam momentum
kegiatan Pesantren Denanyar. Di IKAPPMAM Cabang Tulungagung, ada kegiatan rutin
berupa ngaji bersama pengasuh. Di situ para kiai, termasuk Gus Muid, hadir. Namun
kali kami bertemu dalam momentum yang berbeda.
Kami kemudian berpisah dan melanjutkan perjalanan
masing-masing. Rombongan kami, dengan ditemani beberapa mahasiswa Universitas
Al Azhar, menuju ke dalam Khan Khalili.
Pasar ini sangat besar. Saya tidak tahu persis ukurannya.
Sepanjang jalan di samping Universitas Al-Azhar terbentang pasar ini.
Menurut Owen Putra (2013: 98-99), pasar ini dibangun
tahun 1382 M oleh Emir Djaharks El-Khalili. Nama pasar ini, Khan Khalili,
dinisbahkan dengan nama pembangunnya. Dia memang merupakan pejabat Dinasti
Mamalik yang banyak mendirikan khan.
Masuk pasar ini memang terasa unik. Putra menyebut
bahwa orisinalitas atmosfer Mesir bisa ditemukan di pasar ini. Di pasar ini bisa
ditemukan aneka barang, khususnya interior kuno. Bisa dikatakan surganya ada di
pasar ini.
Jika tidak memiliki tujuan jelas, waktu bisa habis
untuk berkeliling dari kios ke kios. Rupanya Nur Hasan memiliki kios
langganan untuk oleh-oleh. Kami pun diarahkan menuju ke kios laangganan.
Kios ini sederhana. Di dalamnya penuh sesak barang. Juga
penuh sesak wisatawan dari Indonesia dan Malaysia. Di tempat ini rombongan
segera menyebar dan memilih barang yang diharapkan.
Hari mulai sore. Tubuh juga lelah. Begitu usai kami
pun segera keluar kios untuk melanjutkan perjalanan.