Kamis, 26 September 2013

Kisah Perjuangan ‘Orang Kecil’ Naik Haji




Oleh Ngainun Naim
Kloter demi kloter jamaah haji Indonesia mulai meninggalkan tanah air menuju tanah suci. Mereka akan menjalankan ibadah yang penuh perjuangan. Sementara, keluarga dan handai taulan yang ditinggalkan melepaskan dengan penuh doa dan harapan agar ibadah haji yang dijalankan berjalan sukses dan pulang menyandang haji mabrur.
Ibadah haji selalu menjadi sorotan nyaris tiap tahun. Sejauh yang saya ketahui, nyaris tidak ada tahun yang sempurna dalam pelaksanaan ibadah haji. Selalu ada persoalan, baik kecil atau besar. Saya kira itulah dinamika pelaksanaan ibadah yang melibatkan jumlah orang sangat banyak.
Saya justru tertarik mencermati bagaimana orang memiliki niat untuk menjalankan ibadah ini dan mewujudkannya. Bagi orang kaya, orang pandai, orang beruntung, ibadah haji dapat saja dilakukan setiap tahun. Tetapi bagi ’orang kecil’, butuh perjuangan keras dan ’berdarah-darah’ hingga dapat menuju baitullah.
Setiap tahun, selalu ada ’orang-orang kecil’ yang harus kita apresiasi karena kemampuannya berjuang teramat keras dan tanpa putus asa sehingga berhasil mewujudkan mimpinya berhaji. Rasanya mustahil melaksanakan ibadah haji bagi kelompok jika tanpa kemauan yang sering berada di atas rata-rata.
Berkaca Pada Abdullah
Abdullah, seorang tukang becak di Jember Jawa Timur adalah contoh nyata bagaimana kuatnya hasrat untuk berhaji. Anda bisa bayangkan berapa penghasilan seorang abang becak seperti Abdullah. Jumlah penghasilan yang sering tidak pasti tidak memupuskan niatnya untuk terus menabung demi menjadi seorang haji.
Sebagaimana dimuat di http://regional.kompas.com/read/2013/09/24/0602297/26, Abdullah membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk mewujudkan niatnya. Dia sudah memulai tekad bisa berhaji sejak 1987. Selama 26 tahun ini, dia tekun menabung. "Saya kalau nabung tidak setiap hari, kadang tiga hari (sekali), bahkan jika tidak ada yang sisa menarik becak, saya baru satu minggu menabung. Itu pun sekali menabung saya hanya Rp 25.000," kenangnya.

Niat Abdullah untuk menunaikan ibadah haji rupanya terwujud. Pada 2009, dia mendaftar pemberangkatan haji ke Kantor Kementerian Agama Jember. "Saat itu, saya mendaftar dengan uang Rp 25 juta," tutur dia.

Meski sudah mendaftarkan diri, Abdullah tetap meneruskan kebiasaannya menabung. "Saya nabung terus karena uangnya kan masih kurang (untuk ongkos haji)," ujar dia. Ketekunan itu berjawab. "Kuncinya hanya satu, niatnya harus sungguhan dan selalu berdoa kepada Allah SWT, lalu kita berusaha," pesannya.
Kisah perjuangan Abdullah sehingga bisa menunaikan haji pada tahun ini memberikan inspirasi kepada kita mengenai mentalitas proses. Mewujudkan mimpi besar berhaji bagi orang kecil memang membutuhkan perjuangan dan usaha secara terus-menerus. Hanya melalui cara semacam inilah mimpi dapat diwujudkan.
Saya yakin ada banyak Abdullah lain. Mereka adalah orang-orang yang di mata masyarakat lain mungkin dinilai sebagai ’orang kecil’, tetapi sesungguhnya mereka orang besar karena mampu melampaui orang-orang di kelasnya.
Trenggalek, 26 September 2013
Ngainun Naim
www.ngainun-naim.blogspot.com

1 komentar:

Terima kasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Komentar anda sangat saya hargai.