Kamis, 09 Mei 2013

MENGGALI KEUNIKAN DIRI


Oleh Ngainun Naim

Kompetisi hidup sekarang ini semakin ketat. Masing-masing orang berlomba untuk menjadi yang terbaik dan terdepan. Ada yang menempuh cara normal dan bermartabat dengan bekerja keras, membangun ketahanan mental, menempa diri dengan beragam ketrampilan, dan terus berjuang demi kesuksesan. Sebaliknya tidak sedikit yang menghalalkan segala cara demi meraih apa yang diinginkan. Korupsi, mencari jalan pintas, menipu dan berbagai perilaku memalukan lainnya menjadi bagian dari strategi sukses.
Dalam kerangka membangun kesuksesan hidup, apapun definisi kesuksesan itu, aspek mendasar yang cukup penting untuk dipertimbangkan adalah mengenai keunikan diri. Setiap manusia pada dasarnya unik. Sayangnya, sebagaimana dikatakan oleh Eileen Rachman & Sylvina Savitri (Kompas, 30 Januari 2010), banyak dari kita yang tidak menyadari terhadap keunikan yang kita miliki. Padahal, setiap orang pasti memiliki keunikan sendiri. Keunikan tersebut tidak dimiliki oleh orang lain. Aspek keunikan diri yang menjadikan seseorang memiliki nilai lebih dibandingkan dengan yang lain. Ketidaksadaran terhadap aspek keunikan diri menjadikan kita melihat bahwa hidup ini sudah sedemikian taken for granted. Kata Eileen dan Sylvina, hidup yang semacam ini dipandang seperti sebuah permainan saja. Dalam permainan seperti sepakbola misalnya, segala sesuatunya sudah standar. Ukuran bola, lapangan, aturan, dan cara bermainnya sudah standar. Jika ini yang terjadi, tanpa disadari individu memang tidak bisa menghargai kemampuannya sebagai modal untuk menciptakan momen-momen terbaik, atau peak experience dalam hidup pribadinya, pekerjaannya, juga kemasyarakatannya.
Menemukan keunikan diri memang tidak mudah. Jika orang mau menggali keunikan dirinya, ia harus berusaha keras untuk menemukan apa yang paling menarik bagi dirinya. Keunikan diri bisa digali dengan banyak-banyak melakukan komunikasi dengan diri sendiri (self-communication) dalam bentuk merenung, berfikir, dan merefleksikan segala sesuatu yang berkaitan dengan aktivitas dan perjalanan hidup kita. Dari proses ini akan ditemukan berbagai kelebihan dan kekurangan yang ada dalam diri. Setelah menemukan berbagai kelebihan dan kekurangan diri, maka dibuat skala prioritas.
Langkah berikutnya adalah melakukan analisis terhadap potensi yang ada untuk dikembangkan. Pada tingkat ini, sebenarnya seseorang telah mampu mengidentifikasi bakat-bakat yang ada dalam dirinya. Ketika bakat telah ditemukan, untuk aktualisasinya adalah dengan menemukan sasaran yang cocok.
Setelah itu, langkah selanjutnya adalah melakukan motivasi positif dalam diri. Motivasi positif merupakan bentuk kekuatan pendorong di dalam diri untuk mewujudkan pencapaian sasaran. Motivasi positif penting dibangun sebab jika salah dalam membangun motivasi, seseorang dapat terjebak untuk melakukan tindakan yang tidak benar. Rumus menghalalkan segala cara asal tujuan tercapai merupakan bentuk penyimpangan dalam pencapaian tujuan. Hal ini sangat berbahaya karena justru akan menghancurkan tujuan yang lebih utama. 
Sebagai konsekuensi dari langkah ini, penting untuk menemukan wadah dan bimbingan. Adapun langkah terakhir adalah mengetahui cara belajar yang cocok, yakni cara yang cocok untuk mengembangkan bakat yang dimiliki. Siapapun yang ingin sukses dalam mengembangkan bakatnya, ia harus terus-menerus belajar. Belajar secara terus-menerus lewat berbagai media merupakan salah satu sarana penting untuk terus mengasah kemampuan dan potensi yang dimiliki. Seorang yang telah menemukan bakatnya dalam bidang usaha, dan telah menempuh empat langkah pertama, mungkin ia berhasil mencapai kesuksesan. Tetapi ketika ia telah merasa berpuas diri dan tidak mau belajar lagi, kesuksesan yang telah diraihnya tidak akan mampu bertahan lama. Perkembangan dan tantangan menjadi sesuatu hal yang tidak mungkin untuk dihindari. Hanya mereka yang mau belajar secara terus menerus untuk memperbaiki diri saja yang akan mampu bertahan dalam kesuksesannya. Sementara mereka yang telah merasa puas dengan apa yang dicapai, pada saat tertentu akan ketinggalan dengan pendatang baru yang jauh lebih kompetitif.

2 komentar:

  1. Balasan
    1. Terima kasih telah berkunjung dan membaca artikel di blog sederhana ini. Salam.

      Hapus

Terima kasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Komentar anda sangat saya hargai.