Selasa, 16 April 2013

MENULIS ITU PERJUANGAN (BAGIAN PERTAMA)


MENULIS ITU PERJUANGAN
Bagian Pertama
Oleh Ngainun Naim

“Pak, ada paket kagem Panjenengan. Sepertinya buku”, kata petugas resepsionis kampus tempatku bekerja. Dia hafal betul dengan paket kiriman yang kerap aku terima, yaitu buku. Aku bergegas menuju ruang resepsionis untuk mengambil paket tersebut. Dan seperti aku duga, paket buku.
Hari senin (11/3) kemarin menjadi hari yang indah karena kehadiran buku inspiratif, Tidur Berbantal Koran, Kisah Inspiratif Seorang Penjual Koran Menjadi Wartawan karya N. Mursidi. Buku ini aku pesan langsung ke penulisnya setelah aku membaca informasi mengenai buku ini di FB Mas N. Mursidi.
Segera aku membuka buku tersebut. Kulihat sampulnya yang menarik. Kubaca sekilas isinya. Maksud hati ingin segera membacanya sampai tuntas, tetapi kesibukan membuatku harus menunda keinginan tersebut. Aku masih harus mengajar, lalu menyelesaikan tugas administrasi kantor. Setelah dhuhur, aku berjuang melawan guyuran hujan yang sangat deras menuju terminal karena harus mengajar di sebuah PTS di Trenggalek. Aku berharap mendapatkan sebuah bis yang nyaman sehingga memberikan kesempatan untuk ’mencicipi’ buku Mursidi. Tetapi harapanku tidak terkabul. Bus penuh sesak. Beruntung masih ada satu bangku untukku duduk.
Aku mensyukuri kondisi ini. Kunikmati perjalanan sekitar satu jam menuju Trenggalek, sebuah kota kecil di mana sekarang aku tinggal. Sampai di kampus, aku mengajar sampai sekitar setengah lima sore. Baru pada malam hari, aku mulai membaca sedikit demi sedikit.
Membaca buku karya Mursidi seperti mendengar dia bertutur secara lisan. Ingatanku segera melayang ke Yogyakarta di awal tahun 2000-an. Saat itu aku diajak Achmad Maulani (seorang penulis muda produktif yang namanya juga menjadi bagian dari cerita dalam buku ini karena ia memang teman seperjuangan Mursidi) untuk mampir ke kos Mursidi, tapi sayang dia tidak ada. Info yang kudapat, ayahnya sakit. Padahal saat itu aku ingin berdiskusi, berbincang, dan menyerap ilmu tentang menulis di media massa.
Beberapa kali aku membaca karya-karya Mursidi, baik artikel, resensi buku, atau cerpen. Yogyakarta memang gudangnya penulis muda. Hampir semua media massa dirambah oleh penulis Yogyakarta. Dan salah seorang di antaranya adalah Mursidi.
Tahun 2009, aku ada tugas menghadiri sebuah konferensi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saat itulah aku mengontak dia, dan akhirnya bisa berbincang di Terminal Lebak Bulus. Sekitar satu jam kami berbincang dan berbagi pengalaman. Aku menghadiahkan padanya buku karyaku, Menjadi Guru Inspiratif (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), yang sekarang sudah memasuki cetakan ketiga. Aku berharap dia meresensinya.
Pasca pertemuan itu, tidak ada informasi mengenai bukuku; apakah sudah diresensi atau belum. Aku sendiri sudah melupakannya, sampai suatu ketika aku membaca di Jawa Pos ada resensi bukuku. Aku membaca resensi tersebut. Luar biasa! kataku dalam hati. Ia mampu membuat sebuah resensi yang memikat. Pantas saja banyak karyanya yang nampang di media massa.
Itu sedikit kisahku berkenalan dengan N. Mursidi. Aku memang tidak banyak mengenalnya secara personal karena hanya sekali bertemu, tetapi karyanya sering aku jadikan referensi dan aku nikmati [Bersambung].
Trenggalek, 13/3/2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Komentar anda sangat saya hargai.