Sabtu, 27 April 2013

FILSAFAT "NDELOK-NDELOK"


Oleh Ngainun Naim

Mantan Presiden RI, K.H. Abdurrahman Wahid, pernah membuat pernyataan menarik mengenai kiai dan intelektual. Menurut Gus Dur—sapaan akrab K.H. Abdurrahman Wahid—perbedaan antara keduanya sangat mendasar, yakni pada orientasinya. Kiai itu berusaha menerjemahkan teori, konsep, dan persoalan yang rumit menjadi sederhana dan mudah dipahami oleh masyarakat. Sementara intelektual justru sebaliknya; persoalan yang sebenarnya sederhana dan mudah justru dibuat rumit dengan bungkus teori yang melangit. Seolah ciri intelektual adalah ilmiah yang sulit untuk dipahami. Akibatnya, masyarakat yang mendengar justru dibuat pusing dengan hal tersebut.
Pernyataan tersebut bisa jadi sekadar guyonan atau memang dimaksudkan oleh Gus Dur untuk memberikan kritik terhadap kalangan intelektual yang terkesan elitis dan hanya berada di atas menara gading. Sudah bukan rahasia lagi kalau Gus Dur dikenal sebagai ahli humor sekaligus kritikus yang cerdas. Khazanah  humornya sangat kaya. Dalam berbagai forum—formal atau nonformal—Gus Dur dengan tanpa beban melontarkan joke-joke segar yang menghibur.
Wajar jika Gus Dur memberikan pujian terhadap kiai karena peran besarnya dalam transformasi di berbagai bidang kehidupan. Kehidupan Gus Dur selalu dikelilingi oleh kiai. Gus Dur sendiri kita kenal sebagai kiai yang tidak hanya ahli dalam bidang agama, tetapi juga berbagai bidang kehidupan lainnya. Gus Dur menjadi kiai—meminjam penjelasan budayawan Mohammad Sobari—pertama-tama karena ”ascribed status”. Kurang lebih itu artinya, beliau menjadi kiai karena ayahnya kiai, dan kakeknya, dari pihak ayah maupun ibu, semua juga kiai.
Tetapi Gus Dur menjadi kiai bukan semata-mata karena memiliki garis nasab kiai, melainkan juga karena ”achieved status”, yakni melalui perolehan prestasi pribadi. Jauh sebelum Gus Dur menjadi tokoh besar, beliau telah melewati berbagai perjalanan yang memungkinkan dirinya menjadi kiai. Beliau nyantri di berbagai pesantren, terutama di Pesantren Tegalrejo, Magelang. Beberapa pesantren juga pernah disinggahi, walaupun tidak lama.
Di masa dewasanya, beliau pun masih ’nyantri’ pada seorang kiai tarekat di Kebumen. Kecuali itu, beliau juga sangat dekat dengan sejumlah kiai yang di dunia NU disebut ’khariqul adah’—kiai-kiai ’nyleneh’—karena pada hakekatnya mereka menatap dimensi lain dalam hidup, yang tak tampak oleh cara pandang biasa.  Karena itu tidak ada yang meragukan kekiaian beliau.
Menurut Gus Dur, kiai dan intelektual seharusnya menjalankan perannya masing-masing secara optimal. Lewat cara demikian, diharapkan kehidupan umat akan mengalami transformasi ke arah yang lebih baik. Saat Gus Dur memberikan pujian terhadap kiai bukan berarti Gus Dur menafikan kaum intelektual. Beliau sendiri juga seorang intelektual. Kritik tersebut lebih dimaksudkan sebagai kritik konstruktif agar masing-masing menjalankan perannya secara lebih optimal.
Salah satu kelemahan kalangan intelektual—sebagaimana kritik Gus Dur—adalah pilihan terminologisnya yang sering terkesan elitis dan sulit dipahami. Salah satu contoh konsep yang sekarang ini sedang banyak diperbincangkan oleh kalangan intelektual adalah konsep toleransi. Kalangan intelektual merumuskan toleransi dari beragam perspektif: sejarah, sosiologi, filsafat, dan juga agama. Rumusan tersebut—tentu saja—memiliki kontribusi signifikan dalam membangun epistemologi yang mapan terhadap konsep toleransi. Sebagai kinerja intelektual, hasil kerja keras kalangan intelektual tersebut seharusnya diapresiasi secara positif. Cara kerja merekalah yang memiliki kontribusi penting terhadap perubahan.
Namun demikian, salah satu kelemahan produk intelektual adalah sulitnya diterjemahkan pada masyarakat di akar rumput. Biasanya, bahasa yang digunakan kalangan intelektual adalah bahasa ilmiah yang sarat dengan kutipan-kutipan teoritis. Seolah ukuran ilmiah adalah sesuatu yang sulit untuk dipahami. Demikian juga dengan konsep toleransi.
Dalam kerangka semacam ini menarik untuk merenungkan kiprah seorang kiai asal Ngunut Tulungagung, yaitu K.H. Nasihuddin. Beliau adalah seorang kiai yang cukup dikenal di daerah Tulungagung dan sekitarnya. Hal ini dapat dimaklumi mengingat beliau memang rajin berdakwah. Gaya bahasa yang beliau gunakan sederhana, mudah dipahami, aktual, dan berbasis pada pengalaman kehidupan sosial kemasyarakatan sehari-hari. Hal ini yang menjadikan beliau seorang kiai yang dakwahnya selalu ditunggu oleh masyarakat.
Salah satu contoh menariknya adalah bagaimana K.H. Nasihuddin mengajarkan toleransi kepada masyarakat. Beliau menggunakan konsep yang cukup menarik, yaitu ”ndelok-ndelok” (lihat-lihat). Filsafat ”ndelok-ndelok” ini hampir selalu muncul dalam setiap pengajian beliau. Substansinya adalah mengajak umat untuk memahami setiap persoalan yang ada secara objektif, jernih, bijak, dan tidak terburu-buru. Lewat filsafat ”ndelok-ndelok”, orang tidak mudah untuk diajak membuat keputusan secara emosional. Segala sesuatunya seyogyanya dipertimbangkan secara baik.
Filsafat ”ndelok-ndelok” ini sesungguhnya mengandung konsep yang luas, mendalam, dan kontekstual. Dikatakan luas karena saat diimplementasikan, filsafat ”ndelok-ndelok” ini mencakup berbagai aspek kehidupan. Ia mencakup bidang ibadah dan muamalah. Orang yang memahami filsafat ”ndelok-ndelok” ini secara baik akan memiliki sifat yang toleran. Dikatakan mendalam karena kandungan maknanya yang filosofis dan substansial. Dan dikatakan kontekstual karena kata tersebut bisa diterapkan dalam situasi, kondisi, dan waktu yang ada.
Filsafat ”ndelok-ndelok” yang dipopulerkan oleh K.H. Nasihuddin merupakan konseptualisasi yang cerdas dan aplikatif untuk membangun saling pengertian dan menghargai perbedaan. Di tengah kehidupan sosial kemasyarakatan yang kian kompleks dan mudah tersulut dalam pertentangan, apa yang dirumuskan oleh K.H. Nasihuddin memiliki kontribusi konstruktif dalam menumbuhkan kesadaran keragaman di masyarakat.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Komentar anda sangat saya hargai.