Selasa, 30 April 2013

DUA PULUH TAHUN PLUS SATU MALAM


Prof. Dr. Emil Salim pernah menyatakan bahwa menonton televisi tidak akan membuat kita semakin cerdas, tetapi semakin tumpul. Tumpul nurani, tumpul kecerdasan, tumpul empati, dan seterusnya.
Saya setuju dengan pendapat tersebut, tetapi tidak sepenuhnya. Memang, televisi saat ini lebih banyak menyajikan acara yang membuat kita ”tumpul”. Tumpul empati misalnya, bisa kita lihat pada bagaimana televisi tanpa perasaan menyorot terus-menerus dan membombadir istri Almarhum Ustadz Jefry Al-Bukhari dengan pertanyaan yang—menurut saya—mengabaikan perasaan. Tumpul kecerdasan misalnya bisa kita simak pada bagaimana orang begitu pandai bersilat lidah demi mencapai kemenangan, walaupun itu dilakukan dengan argumentasi yang kurang rasional.
Tetapi saya juga masih menemukan beberapa acara yang—sekali lagi menurut saya—memberikan banyak pengetahuan dan pencerahan. Salah satunya adalah Mario Teguh, The Golden Ways. Saya sendiri tidak rutin menonton acara ini, tetapi setiap ada kesempatan yang memungkinkan, saya usahakan untuk menontonnya. Saya butuh wawasan, pengetahuan, dan charge untuk jiwa saya.
Minggu malam [28/4], saya sempat menonton acara yang bertajuk ”Langit Runtuh”. Acara itu memberikan kepada saya banyak pengetahuan yang bermanfaat. Pertama, jangan sepelekan nasehat, omongan, dan peristiwa yang Anda lihat karena itu sesungguhnya merupakan pesan Tuhan untuk kita. Tuhan menyampaikan pesannya kepada kita melalui banyak cara. Saya menemukan pengetahuan baru untuk lebih rendah hati dan membuka hati terhadap apapun yang ada di sekitar saya karena ada banyak nasehat untuk hidup saya.
Kedua, kedamaian itu bukan hadiah, tetapi reward atas apa yang kita lakukan. Artinya, jika kita ingin mendapatkan kedamaian maka kita harus berusaha keras untuk mendapatkannya. Jangan pasif. Harus selalu aktif untuk meraihnya. Saat keberhasilan menyapa, di situlah arti dan makna penting kedamaian.
Ketiga, rahasia sukses. Seperti tertera dalam judul catatan ini, Mario Teguh menyatakan bahwa keberhasilannya sekarang ini adalah hasil kerja kerasnya yang panjang. Jika ia sekarang bisa tampil sukses di sebuah acara pada malam hari dengan disaksikan oleh ratusan atau bahkan ribuan orang, itu semua ia peroleh dari latihan panjang selama dua puluh tahun berlatih seorang diri. Artinya, jika ingin sukses maka harus terus ”menempa diri” tanpa kenal lelah.
Keempat, sebagai konsekuensi dari kesimpulan yang ketiga, yaitu orang hebat itu hasil tempaan yang keras. Tetapi kita jangan menjadi orang yang sangat keras. Ada batas-batas tertentu yang harus kita perhatikan agar tempaan dan kekerasan itu memberikan manfaat besar dalam hidup kita.
Kelima, tersiksa adalah latihan untuk melindungi orang lain dari siksaan yang sama. Jika Anda pernah merasakan siksaan, maka jadikanlah itu sebagai bahan untuk jangan menyiksa orang lain. Alih-alih justru lindungilah orang lain agar tidak mengalami siksaan sebagaimana yang Anda alami.
Keenam, orang-orang sedih adalah orang-orang hebat yang sedang salah sikap. Tidak ada manusia yang tidak pernah sedih, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana segera mengubahnya agar tidak mengganggu kejernihan dan kebeningan jiwa kita.
Ketujuh, kalau Anda ingin menjadi pemimpin yang dipatuhi, maka saat muda belajarlah untuk patuh. Kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan sesuai dengan investasi yang kita tanam. Kalau saat menjadi anak buah kita tidak patuh, maka wajar jika saat menjadi pemimpin juga tidak dipatuhi.
Dan kedelapan, jika langit pun runtuh, orang beragama akan tetap damai. Orang beragama memiliki kepasrahan yang tinggi kepada Tuhan. Segalanya akan dipasrahkan kepada Tuhan. Kepasrahan dan totalitas ketergantungan kepada Tuhan inilah yang akan membuat hidup orang beragama senantiasa dalam kedamaian. 
Ada beberapa hal lain lagi yang penting, tetapi secara substansial itulah beberapa poin yang saya catat dan bisa saya bagikan kepada Anda sekalian. Semoga catatan singkat ini ada manfaatnya. Amin. Salam [Kampus STAIN Tulungagung, 29/4/2013].

2 komentar:

  1. Bermanfaat sekali. Terima kasih.

    BalasHapus
  2. Dewi Iriani@ terima kasih berkenan mengunjungi blog ini.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Komentar anda sangat saya hargai.