Tidak lengkap lagi
Ngainun Naim
Berat tetapi harus belajar mengikhlaskan. Ikhlas itu
mudah diucapkan atau ditulis tetapi sungguh tidak mudah untuk dijalani. Maka
yang bisa dilakukan adalah dengan belajar. Ya, pelan tapi pasti diupayakan
untuk ikhlas sampai ketika ikhlas dalam maknanya yang substantif bisa
dirasakan.
Paragraf pembuka ini penting saya tulis sebagai pengingat
diri. Kehilangan salah seorang adik—Ngainun Nisak—merupakan pukulan psikologis
yang cukup telak. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika adik kelima ini
pergi dengan begitu cepatnya.
Tetiba pikiran melayang. Serpihan kenangan berkelebat
dari momentum ke momentum. Tidak utuh tetapi selaksa video singkat dalam
aplikasi kontemporer.
Saya menyayangi semua adik. Sebagai sulung dari enam
bersaudara, saya memberikan perhatian, bantuan, dan doa tidak putus pada mereka
semua: Niam, Rohmah, Nikmah, Nisak, dan Yaqin. Tentu tidak sama antara satu
dengan yang lainnya karena memang tidak mungkin sama dalam semua hal.
Hal yang sama juga dilakukan oleh kami bersaudara. Saling
dukung, saling bantu, dan saling mendoakan.
Kami berenam memiliki karakter yang tidak sama. Ada
keragaman di antara kami. Namun darah nasab dari Bapak dan Ibuk yang menyatukan
kami. Dan ini menjadi ikatan batin yang
sangat kuat di antara kami.
Masa kecil kami sangat indah dalam keterbatasan. Apa yang
hari ini kami alami dan jalani adalah bagian dari hasil didikan Bapak dan Ibuk.
Ceria
Nisak anaknya ceria. Senyumnya selalu merekah. Di mana
ada Nisak, di situ ada keriuhan.
Saya ingat ia lahir di bulan Ramadan. Karena itu Mbah
Toha Arif mengusulkan agar di belakang namanya ada tambahan Al-Qodriyah. Namun
usulan itu rupanya sebatas usulan. Jadilah namanya mirip dengan kami. Nama
depan Ngainun. Di belakang nama Nisak tidak ada tambahannya.
Dulu, dia menjadi sasaran bully kami para
saudaranya. Entah siapa yang memulai. Karena warna kulitnya yang agak gelap,
dia dibilang anak titipan. “Anaknya Mbok Mut”, seorang famili yang tinggal di
Puser Pucanglaban.
Ketika sekolah, ia cukup moncer. Prestasinya
lumayan baik. Prestasi ini merupakan buah dari ketekunannya belajar.
Dulu, ketika di bangku MAN 1 Tulungagung, bersama timnya
menjadi juara LKTI tingkat provinsi. Sebuah prestasi yang tidak sederhana.
Kuliahnya di STAIN Tulungagung mengambil Jurusan Bahasa
Inggris. Ia lulus tahun 2013.
Episode selanjutnya relatif standar. Bekerja, berumah
tangga, dan memiliki anak.
Nisak hidup bahagia bersama suami—Danang Pristian—dan si
kecil Danish Rasyadan. Mereka tinggal di Perumahan Puri Permata Tulungagung.
Kebahagiaan ini terkoyak dengan sakitnya yang mendadak.
Berbagia ikhtiar untuk kesembuhan—medis dan non medis—sudah dilaksanakan. Namun
takdir menentukan Nisak berpulang pada Subuh 29 Januari 2026.
Pembelajaran
Meski tahu kematian merupakan kemestian, namun pergi
dengan sangat cepat sungguh menyesakkan dada. Kesedihan itu manusiawi tetapi
tidak boleh berlanjut. Perspektif positif harus dimunculkan agar sadar akan
takdir dan ikhlas menerimanya.
Saya menemukan ada beberapa dimensi pembelajaran dari
wafatnya Nisak. Pertama, pembelajaran tentang persaudaraan. Kami berenam
berdiaspora ke beberapa tempat. Nikmah tinggal di Indragiri Hulu Riau. Niam
tinggal di Tangerang. Saya di Trenggalek. Rohmah, Nisak, dan Kikin tinggal di
Tulungagung dengan lokasi yang berbeda-beda.
Sehari menjelang Nisak wafat, Nikmah pulang untuk
menguatkan adiknya. Niam yang tinggal di Tangerang menyusul pulang dan sampai
di rumah pada hari ketiga wafatnya Nisak. Meski dalam suasana duka, ada
pembelajaran yang membuat kami bisa bersua. Sebuah momentum yang sangat mahal
di tengah dinamika hidup yang harus kami jalani masing-masing.
Kedua, pembelajaran tentang kebersamaan. Berkumpul di rumah yang membesarkan kami
dalam suasana duka adalah pembelajaran tentang makna kebersamaan. Seberat apa
pun, ketika ada hal yang membutuhkan, ternyata kami bisa berkumpul.
Ketiga, pembelajaran tentang usaha. Sakit itu ujian hidup. Tidak ada yang tidak pernah mengalaminya. Tugas manusia adalah berusaha hidup sehat. Namun ketika sakit, tugasnya adalah berusaha mengobati. Usaha maksimal sudah kami lakukan untuk kesembuhan Nisak. Namun ketika takdir menentukan batas hidup, tidak ada pilihan selain menerimanya.
Keempat, pembelajaran tentang kehidupan ada batasnya. Ini merupakan hal yang sesungguhnya sudah diketahui oleh setiap orang. Makhluk hidup pasti akan mati. Namun pengetahuan ini akan kurang bermakna karena belum menemukan momentum yang tepat.

Assalamu'alaikum...
BalasHapusNgaturaken Raos Bela Sungkawa lan Nderek Ndedungo Prof. ....
Mugio Ibu Ngainun Nisa' Pinaringan Khusnul Khotimah...
Dipon Tampi Amal Ibadah Ipon...
Dipon Paringi Maghfiroh Sedoyo Kalepatan Ipon....
Lan Dipon Panggenaken dateng Suwargonipon Allah...
Lan Ugi, Mugio Sedoyo Keluwargo Ingkang Dipon Tilar, Dipon Paringi Manah Ingkang Tabah lan Ridho...
Amin Ya Robbal'alamin....