Ada sebuah kutipan menarik dari buku yang ditulis dokter cum ahli filsafat, Tan Shot Yen, Nasehat buat Sehat (Jakarta: Gramedia, 2020, 12). Kutipan ini terlihat sederhana namun—menurut saya—cukup inspiratif dan sejalan dengan catatan sederhana ini.
Orang yang sehat akan ikhlas berjalan kaki ke pasar
tradisional atau swalayan terdekat ketimbang menjunjung kepraktisan dengan
membeli makanan cepat saji.
Kutipan ini
menegaskan dua hal. Pertama, pentingnya jalan kaki. Sekarang ini kita
dimanjakan oleh fasilitas. Bepergian dalam jarak sekian ratus meter sudah
memakai sepeda motor. Mobil harus parkir dengan jarak yang agak jauh dari
tujuan sudah mengeluh. Padahal dengan jalan kaki ada banyak manfaat—khususnya manafaat Kesehatan—yang bisa kita peroleh.
Kedua, dalam konteks makanan, kita lebih mengedepankan
kepraktisan daripada pertimbangan kesehatan. Semua itu sesungguhnya pilihan
masing-masing orang. Namun makanan cepat saji tidak lebih sehat dibandingkan
dengan makanan tradisional yang alami.
Belakangan ada kecenderungan
orang untuk kembali ke hal-hal yang bersifat
tradisional, termasuk makanan. Tentu ini merupakan fenomena yang penting untuk diapresiasi sepanjang dilandasi oleh pengetahuan dan kesadaran.
Meskipun, banyak yang kita saksikan, fenomena kembali ke tradisional ini
sebatas sebagai konten media digital.
Jalal Kaki
Satu hal yang sangat
saya syukuri dalam hidup adalah munculnya kesadaran untuk berolahraga. Sesungguhnya
pengetahuan tentang signifikansi jalan kaki sudah lama saya
ketahui, namun demikian belum
muncul kesadaran untuk menurunkan menjadi tindakan. Padahal kesadaran ini
sangat penting karena ini adalah salah satu jalan untuk merawat diri agar tetap
sehat. Di usia yang melampaui setengah abad lebih ini, kesehatan adalah modal
penting dalam menjalani hidup bahagia.
Saya sendiri belum
benar-benar bisa menjalani gaya hidup sehat. Kadang makan tidak terkontrol.
Kadang istirahat kurang. Kadang stress. Kadang juga masih melakukan hal-hal lain yang kurang baik bagi kesehatan.
Namanya juga manusia.
Meskipun tahu itu kurang baik bukan berarti bisa menghindari secara maksimal.
Namun setidaknya sudah ada usaha secara serius untuk merawat kesehatan demi
kehidupan yang lebih baik.
Dulu saya menggemari
berbagai jenis olahraga. Saya sangat menyukai tenis meja. Ketika
masih belajar di pesantren, nyaris setiap libur saya bermain. Kadang menang,
namun lebih sering kalah. Bagi saya, olahraga bukan hanya tentang kalah menang
tetapi juga merupakan hiburan yang menyehatkan.
Dulu saya juga sangat
menyukai main voli. Saya merasa beruntung memiliki postur yang lumayan sehingga
ketika memukul bola bisa masuk ke lapangan lawan dengan tajam. Namun seiring
waktu, dengan mata minus yang semakin tebal, kegiatan ini sudah lama tidak saya
lakukan. Saya tidak awas lagi terhadap arus pergerakan bola. Maka main voli
adalah kenangan yang tidak akan saya lakukan lagi justru demi kesehatan itu
sendiri.
Saya juga menggemari
bulu tangkis meskipun tahu diri karena jarang menang.
Jika pun saya menang, biasanya lawan yang mengalah. Mungkin kasihan dengan saya
yang lebih sering kalah.
Kini olahraga andalan
saya adalah jalan kaki. Jenis olahraga ini, menurut saya, murah meriah. Hanya
modal fisik saja. Nyaris tanpa biaya berarti.
Sekarang ini saya memiliki target minimal harian 6000 langkah. Apakah
selalu tercapai? Jelas tidak. Namanya juga target. Paling tidak saya terus
berjuang keras untuk berolahraga jalan kaki ini.
Jumat pagi, 26
Desember 2025, saya jalan kaki di Lapangan Desa Rejowinangun Trenggalek.
Terlihat hanya ada satu orang di sisi lapangan yang berbeda dengan tempat saya
berjalan.
Saya tahu beliau
penjaga malam MI Al Huda Rejowinangun. Kalau tidak
salah namanya Pak Suadi. Beberapa kali saya bertemu dan
berbincang. Juga sering kali saya lihat jalan di pagi hari. Tapi baru
kali ini kami bertemu dalam jalan pagi di tempat yang sama.
Awalnya kami berada
di tempat yang berseberangan. Kami berada di ujung ke ujung yang berbeda. Saya
menduga, beliau tidak akan lama. Jika sudah, katakan lima putaran, paling
beliau juga akan pulang.
Saya mulai jalan
mengelilingi lapangan. Jaraknya kisaran 400 meter. Saya berasumsi, jika sepuluh
putaran berarti sudah 4000 langkah. Sudah cukuplah. Sisanya menuju 6000 langkah
bisa terpenuhi dari aktivititas lain.
Baru empat kali
putaran saya melihat beliau semakin mendekat. Artinya, jalan kaki beliau lebih
cepat dari saya. Betul juga. Di putaran keenam beliau mendahului saya sambil
menyapa.
Kami pun kemudian
terlibat perbincangan. Bukan perbincangan dalam posisi jalan yang setara tetapi
beliau di depan, saya di belakang. Beliau mulai mengurangi kecepatan jalan,
sementara saya harus menambah kecepatan.
Kami berbincang
tentang banyak hal, utamanya terkait olah raga dan kesehatan. Salah satu hal
yang saya tanyakan adalah usia. Beliau menjawab tidak tahu pasti. Asumsinya
lebih dari 60 tahun atau bahkan mendekati 70 tahun. Ini karena ketika peristiwa
G 30 S PKI tahun 1965, beliau sudah ingat.
Perbincangan kemudian
melebar ke berbagai hal, termasuk terkait olahraga dan kehidupan sehari-hari.
Ini perbincangan sederhana namun memberikan banyak pelajaran penting dalam
hidup.
Beliau menyampaikan
bahwa tidak pernah bangun kesiangan. Setiap hari selalu bangun beberapa puluh menit
sebelum subuh. Secapek apa pun, tidak pernah bangun siang, meskipun baru mulai
tidur sudah dini hari.
Setelah shalat subuh
beliau akan jalan kaki. Rutenya bukan lagi antar gang, tapi antar desa. Beliau
bisa melakukannya berjam-jam. Jika mulai, katakan setengah lima, bisa sampai
jam 7. Jalan kaki akan lebih cepat jika ada panggilan pekerjaan yang
membutuhkan tenaga beliau. Jika tidak, beliau akan terus jalan kaki sampai
puas.
Bagi beliau, hidup
harus dijalani dengan semangat. Ini yang membuat beliau selalu memiliki energi
dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Jika tidak bersemangat dan terbawa
rebahan, justru berdampak tidak baik bagi fisik.
Sehari-hari beliau
sibuk dengan berbagai kegiatan. Malam hari tugas utama beliau adalah menjaga MI
Al Huda. Satu hal yang selalu menemani beliau, yaitu air putih. Bagi beliau,
minum air putih sangat penting. Meskipun, beliau juga minum kopi dan merokok, namun
air putih wajib menemani hari-harinya.
Di usia yang tidak
muda, beliau selalu sehat. Ketika saya tanya tentang sakit, beliau bilang
seumur hidup belum pernah periksa ke dokter. Paling-paling sakit ringan seperti
flu. Setelah istirahat secukupnya, biasanya kondisi fisik kembali bugar.
Mbah Legiyem
Pengalaman ini
mengingatkan saya pada podcast yang diunggah kanal YouTube
Mojok.co pada 23 Agustus 2023. Dengan judul Mbah Legiyem: Petani Sepuh yang
Mandiri dan Berdaulat, perbincangan di kanal ini cukup menarik dan
inspiratif.
Saya menyimak dengan
baik perbincangan. Mbah Legiyem, seorang petani sepuh di Gunung Kidul, merupakan
petani yang rasional. Menurut beliau, hidup harus menghitung segala sesuatunya
secara baik. Misalnya, harus dihitung secara rasional antara kepemilikan uang dan
kebutuhan. Ini penting dilakukan karena banyak orang yang tidak rasional jika
berkaitan dengan kepemilikan. Ada orang yang berutang namun tidak ada kepastian
dari mana sumber untuk mengangsur. Ini jelas menjadi sumber kesengsaraan hidup.
Hal menarik lainnya
dari Mbah Legiyem adalah semangat hidup. Beliau selalu bersemangat dalam
bekerja. Beliau bekerja keras namun terukur. Jika waktu bekerja akan bekerja
dan jika waktu istirahat ya harus istirahat. Menariknya, di usia 80 tahun
lebih, beliau masih mengolah lahan seorang diri. Lahannya satu hektar lebih. Dan
sepanjang hidup beliau tidak pernah sakit yang memaksanya periksa ke dokter.
Salah satu kunci
hidup Mbah Legiyem adalah menjaga waktu istirahat. Juga minum teh pahit tanpa
gula. Selain itu menjalani hidup dengan kejujuran. Secara tegas Mbah Legiyem
menyampaikan bahwa beliau anti berbohong. Hidup harus dijalani dengan kejujuran dan
secara apa adanya.
Pengalaman hidup Mbah
Legiyem mengajarkan bagaimana beliau sebagai petani sukses. Bagi Mbah Legiyem,
petani masih menjadi profesi yang menjanjikan, namun tergantung pada orangnya. Jika
orangnya kreatif, hemat, rajin bekerja, dan hidup sederhana maka akan bisa
sukses. Sukses sebagai petani itu bisa membuat hidup Bahagia.
Tulungagung, 4 Januari 2025

Terima kasih Prof sangat mencerahkan
BalasHapusAlhamdulillah. Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak.
Hapuskeren prof. menambah ilmu dari kesuksesan
BalasHapusTerima kasih
HapusLebih panjang dr biasanya
BalasHapusTerima kasih
Hapus