Minggu, 04 Januari 2026

Inspirasi Kesehatan


 

Ada sebuah kutipan menarik dari buku yang ditulis dokter cum ahli filsafat, Tan Shot Yen, Nasehat buat Sehat (Jakarta: Gramedia, 2020, 12). Kutipan ini terlihat sederhana namun—menurut saya—cukup inspiratif dan sejalan dengan catatan sederhana ini.

Orang yang sehat akan ikhlas berjalan kaki ke pasar tradisional atau swalayan terdekat ketimbang menjunjung kepraktisan dengan membeli makanan cepat saji.

 

Kutipan ini menegaskan dua hal. Pertama, pentingnya jalan kaki. Sekarang ini kita dimanjakan oleh fasilitas. Bepergian dalam jarak sekian ratus meter sudah memakai sepeda motor. Mobil harus parkir dengan jarak yang agak jauh dari tujuan sudah mengeluh. Padahal dengan jalan kaki ada banyak manfaat—khususnya manafaat Kesehatan—yang bisa kita peroleh.

Kedua, dalam konteks makanan, kita lebih mengedepankan kepraktisan daripada pertimbangan kesehatan. Semua itu sesungguhnya pilihan masing-masing orang. Namun makanan cepat saji tidak lebih sehat dibandingkan dengan makanan tradisional yang alami.

Belakangan ada kecenderungan orang untuk kembali ke hal-hal yang bersifat tradisional, termasuk makanan. Tentu ini merupakan fenomena yang penting untuk diapresiasi sepanjang dilandasi oleh pengetahuan dan kesadaran. Meskipun, banyak yang kita saksikan, fenomena kembali ke tradisional ini sebatas sebagai konten media digital.

 

Jalal Kaki

Satu hal yang sangat saya syukuri dalam hidup adalah munculnya kesadaran untuk berolahraga. Sesungguhnya pengetahuan tentang signifikansi jalan kaki sudah lama saya ketahui, namun demikian belum muncul kesadaran untuk menurunkan menjadi tindakan. Padahal kesadaran ini sangat penting karena ini adalah salah satu jalan untuk merawat diri agar tetap sehat. Di usia yang melampaui setengah abad lebih ini, kesehatan adalah modal penting dalam menjalani hidup bahagia.

Saya sendiri belum benar-benar bisa menjalani gaya hidup sehat. Kadang makan tidak terkontrol. Kadang istirahat kurang. Kadang stress. Kadang juga masih melakukan hal-hal lain yang kurang baik bagi kesehatan.

Namanya juga manusia. Meskipun tahu itu kurang baik bukan berarti bisa menghindari secara maksimal. Namun setidaknya sudah ada usaha secara serius untuk merawat kesehatan demi kehidupan yang lebih baik.

Dulu saya menggemari berbagai jenis olahraga. Saya sangat menyukai tenis meja. Ketika masih belajar di pesantren, nyaris setiap libur saya bermain. Kadang menang, namun lebih sering kalah. Bagi saya, olahraga bukan hanya tentang kalah menang tetapi juga merupakan hiburan yang menyehatkan.

Dulu saya juga sangat menyukai main voli. Saya merasa beruntung memiliki postur yang lumayan sehingga ketika memukul bola bisa masuk ke lapangan lawan dengan tajam. Namun seiring waktu, dengan mata minus yang semakin tebal, kegiatan ini sudah lama tidak saya lakukan. Saya tidak awas lagi terhadap arus pergerakan bola. Maka main voli adalah kenangan yang tidak akan saya lakukan lagi justru demi kesehatan itu sendiri.

Saya juga menggemari bulu tangkis meskipun tahu diri karena jarang menang. Jika pun saya menang, biasanya lawan yang mengalah. Mungkin kasihan dengan saya yang lebih sering kalah.

Kini olahraga andalan saya adalah jalan kaki. Jenis olahraga ini, menurut saya, murah meriah. Hanya modal fisik saja. Nyaris tanpa biaya berarti.

Sekarang ini saya memiliki target minimal harian 6000 langkah. Apakah selalu tercapai? Jelas tidak. Namanya juga target. Paling tidak saya terus berjuang keras untuk berolahraga jalan kaki ini.

Jumat pagi, 26 Desember 2025, saya jalan kaki di Lapangan Desa Rejowinangun Trenggalek. Terlihat hanya ada satu orang di sisi lapangan yang berbeda dengan tempat saya berjalan.

Saya tahu beliau penjaga malam MI Al Huda Rejowinangun. Kalau tidak salah namanya Pak Suadi. Beberapa kali saya bertemu dan berbincang. Juga sering kali saya lihat jalan di pagi hari. Tapi baru kali ini kami bertemu dalam jalan pagi di tempat yang sama.

Awalnya kami berada di tempat yang berseberangan. Kami berada di ujung ke ujung yang berbeda. Saya menduga, beliau tidak akan lama. Jika sudah, katakan lima putaran, paling beliau juga akan pulang.

Saya mulai jalan mengelilingi lapangan. Jaraknya kisaran 400 meter. Saya berasumsi, jika sepuluh putaran berarti sudah 4000 langkah. Sudah cukuplah. Sisanya menuju 6000 langkah bisa terpenuhi dari aktivititas lain.

Baru empat kali putaran saya melihat beliau semakin mendekat. Artinya, jalan kaki beliau lebih cepat dari saya. Betul juga. Di putaran keenam beliau mendahului saya sambil menyapa.

Kami pun kemudian terlibat perbincangan. Bukan perbincangan dalam posisi jalan yang setara tetapi beliau di depan, saya di belakang. Beliau mulai mengurangi kecepatan jalan, sementara saya harus menambah kecepatan.

Kami berbincang tentang banyak hal, utamanya terkait olah raga dan kesehatan. Salah satu hal yang saya tanyakan adalah usia. Beliau menjawab tidak tahu pasti. Asumsinya lebih dari 60 tahun atau bahkan mendekati 70 tahun. Ini karena ketika peristiwa G 30 S PKI tahun 1965, beliau sudah ingat.

Perbincangan kemudian melebar ke berbagai hal, termasuk terkait olahraga dan kehidupan sehari-hari. Ini perbincangan sederhana namun memberikan banyak pelajaran penting dalam hidup.

Beliau menyampaikan bahwa tidak pernah bangun kesiangan. Setiap hari selalu bangun beberapa puluh menit sebelum subuh. Secapek apa pun, tidak pernah bangun siang, meskipun baru mulai tidur sudah dini hari.

Setelah shalat subuh beliau akan jalan kaki. Rutenya bukan lagi antar gang, tapi antar desa. Beliau bisa melakukannya berjam-jam. Jika mulai, katakan setengah lima, bisa sampai jam 7. Jalan kaki akan lebih cepat jika ada panggilan pekerjaan yang membutuhkan tenaga beliau. Jika tidak, beliau akan terus jalan kaki sampai puas.

Bagi beliau, hidup harus dijalani dengan semangat. Ini yang membuat beliau selalu memiliki energi dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Jika tidak bersemangat dan terbawa rebahan, justru berdampak tidak baik bagi fisik.

Sehari-hari beliau sibuk dengan berbagai kegiatan. Malam hari tugas utama beliau adalah menjaga MI Al Huda. Satu hal yang selalu menemani beliau, yaitu air putih. Bagi beliau, minum air putih sangat penting. Meskipun, beliau juga minum kopi dan merokok, namun air putih wajib menemani hari-harinya.

Di usia yang tidak muda, beliau selalu sehat. Ketika saya tanya tentang sakit, beliau bilang seumur hidup belum pernah periksa ke dokter. Paling-paling sakit ringan seperti flu. Setelah istirahat secukupnya, biasanya kondisi fisik kembali bugar.

 

Mbah Legiyem

Pengalaman ini mengingatkan saya pada podcast yang diunggah kanal YouTube Mojok.co pada 23 Agustus 2023. Dengan judul Mbah Legiyem: Petani Sepuh yang Mandiri dan Berdaulat, perbincangan di kanal ini cukup menarik dan inspiratif.

Saya menyimak dengan baik perbincangan. Mbah Legiyem, seorang petani sepuh di Gunung Kidul, merupakan petani yang rasional. Menurut beliau, hidup harus menghitung segala sesuatunya secara baik. Misalnya, harus dihitung secara rasional antara kepemilikan uang dan kebutuhan. Ini penting dilakukan karena banyak orang yang tidak rasional jika berkaitan dengan kepemilikan. Ada orang yang berutang namun tidak ada kepastian dari mana sumber untuk mengangsur. Ini jelas menjadi sumber kesengsaraan hidup.

Hal menarik lainnya dari Mbah Legiyem adalah semangat hidup. Beliau selalu bersemangat dalam bekerja. Beliau bekerja keras namun terukur. Jika waktu bekerja akan bekerja dan jika waktu istirahat ya harus istirahat. Menariknya, di usia 80 tahun lebih, beliau masih mengolah lahan seorang diri. Lahannya satu hektar lebih. Dan sepanjang hidup beliau tidak pernah sakit yang memaksanya periksa ke dokter.

Salah satu kunci hidup Mbah Legiyem adalah menjaga waktu istirahat. Juga minum teh pahit tanpa gula. Selain itu menjalani hidup dengan kejujuran. Secara tegas Mbah Legiyem menyampaikan bahwa beliau anti berbohong.  Hidup harus dijalani dengan kejujuran dan secara apa adanya.

Pengalaman hidup Mbah Legiyem mengajarkan bagaimana beliau sebagai petani sukses. Bagi Mbah Legiyem, petani masih menjadi profesi yang menjanjikan, namun tergantung pada orangnya. Jika orangnya kreatif, hemat, rajin bekerja, dan hidup sederhana maka akan bisa sukses. Sukses sebagai petani itu bisa membuat hidup Bahagia.

 

Tulungagung, 4 Januari 2025

6 komentar:

Terima kasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Komentar anda sangat saya hargai.