Jumat, 19 April 2013

DUA WAJAH ISLAM


Iklan yang dibuat Jaringan Islam Liberal (JIL) sekitar tahun 2003 yang bertema “Islam Warna Warni” menimbulkan berbagai protes. Iklan tersebut dinilai kurang sesuai dengan Islam. Salah satu argumen pemrotes adalah Islam itu satu. Kata warna-warni menunjukkan bahwa Islam itu tidak satu, tetapi bermacam-macam.
JIL merupakan salah satu organisasi yang kiprahnya sering menjadi sorotan, khususnya berkaitan dengan pemikiran yang mereka usung. Kata liberal menjadi spirit dasar dalam pemikiran yang mereka kembangkan. Kelompok liberal berusaha menafsirkan ulang ajaran Islam dan mengontekstualisasikannya dengan perkembangan zaman sehingga Islam mampu merespon masalah keumatan. Kelompok ini mencoba melakukan reinterpretasi ajaran Islam dengan lebih mengedepankan rasio daripada wahyu.
Di sisi yang berbeda, hadir juga ”wajah” Islam yang juga banyak menarik perhatian publik, yakni Front Pembela Islam (FPI). FPI merupakan ormas yang cukup sering di-cover media dalam hubungannya dengan kehidupan sosial keagamaan di Indonesia. Kiprah FPI yang disorot—terutama—berkaitan dengan aksi-aksinya yang sarat dengan kekerasan, seperti merusak tempat-tempat hiburan malam, kafe, diskotik, dan tempat-tempat lain yang dinilai sebagai sarang kemaksiatan.
FPI dideklarasikan pada 7 Agustus 1998 oleh Mohammad Rizieq Shihab. Ia merupakan kelompok yang didirikan para habib yang berusaha menegakkan amar ma’ruf nahi munkar agar tercipta masyarakat madani. Namun dalam implementasinya, gerakan mereka ternyata lebih banyak menggunakan jalan kekerasan, bukan jalan damai.
JIL dan FPI adalah dua contoh organisasi yang keberadaan, kiprah, dan aksi-aksinya sering menimbulkan kontroversi. Cara berpikir dan bertindak mereka sering dinilai tidak sesuai dengan tradisi Indonesia. JIL dengan watak liberalnya dinilai sarat dengan kepentingan Barat.  Sementara FPI mewakili karakteristik tekstualis yang memahami teks secara apa adanya. Mereka menolak realitas yang tidak sesuai dengan ajaran normatif teks sebagaimana yang mereka pahami. Agar realitas ’sesuai’ dengan bunyi teks, cara apa pun mereka lakukan, termasuk dengan kekerasan.
Dua kelompok ini secara umum menimbulkan resistensi. Ada beragam tanggapan, respon, komentar, dan juga kritik terhadap peran dan kiprah mereka. Secara prinsip, dalam konteks kehidupan yang berbasis demokrasi, semua orang atau kelompok berhak hidup di Indonesia, sepanjang tidak melanggar aturan hukum yang berlaku.
Secara normatif, Islam sesungguhnya tunggal. Rujukannya adalah al-Qur’an dan Hadis. Tetapi dalam realitasnya, Islam bisa tampil dengan ”wajah” yang beragam. Ada Islam yang tampil dengan ”wajah” lembut, ”wajah” sangar, ”wajah” rasional, dan berbagai manifestasi lainnya. Selain itu, ada juga Islam yang masuk dalam ranah politik, sosial, budaya, pendidikan, dan ekonomi.
Keragaman ”wajah” Islam ini setidaknya disebabkan oleh dua hal. Pertama, ajaran-ajaran di dalam Islam tidak semuanya bercorak satu pemaknaan. Ada beragam tafsir terhadap ajaran Islam. Keragaman ini disebabkan oleh faktor lingkungan, budaya, pendidikan, dan juga faktor-faktor lain yang saling berkaitan satu sama lain. Hal ini dapat dicermati dari munculnya madzhab-madzhab dan aliran-aliran Islam. Kedua, pada level praktis, keragaman semakin terbuka karena usaha implementasi ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari yang tidak lepas dari konteks budaya. Dialektika Islam dengan budaya lokal menghasilkan karakteristik Islam yang khas. 
Era reformasi menjadi pintu bagi lahirnya kebebasan dalam skala luas. Dalam kehidupan sosial keagamaan, muncul puluhan organisasi dengan ideologi dan orientasi gerakan yang berbeda. Masing-masing berusaha untuk tampil merebut perhatian publik, menunjukkan eksistensinya, dan menyebarkan pengaruh lewat beragam cara.
Bukan hal mudah untuk memahami keberadaan setiap organisasi. Selain jumlahnya yang cukup banyak, juga karena dalam satu organisasi sendiri memiliki ”sayap-sayap” tersendiri. Tentu saja, kondisi semacam ini menambah kompleks dan rumit.
Kemunculan dua ”wajah” Islam—tektualis dan liberal—yang sering menimbulkan kontroversi merupakan konsekuensi dari kehidupan demokrasi. Pilihan gerakan mereka memang seharusnya kita hormati. Tetapi sebenarnya secara sederhana kita dapat menyatakan bahwa Islam tekstualis berusaha mengusung ”wajah” Arab ke Indonesia karena mereka memaksakan ajaran agama secara tekstualis, sementara Islam liberal berusaha mengusung ”wajah” Barat ke Indonesia karena pemikiran mereka memang banyak yang diimpor dari Barat.
Kita selayaknya belajar pada para tokoh-tokoh besar Indonesia yang mampu menerapkan ajaran Islam secara baik, namun juga mempertahankan warna budaya dan tradisi Indonesia. Mereka menempuh pendidikannya di luar negeri namun tidak membawa, apalagi memaksakan budaya luar negeri, saat mereka kembali ke Indonesia. Pola keberagamaan yang mereka terapkan adalah ”menusantarakan Islam” (meminjam istilah Dr. Aksin Wijaya) atau ”mengindonesiakan Islam” (meminjam istilah Dr. Mujiburrohman), bukan ”mengislamkan nusantara” atau ”mengislamkan Indonesia”.
Kiai Hasyim Asy’ari misalnya, belajar Islam langsung ke pusatnya Islam, yaitu Mekah. Namun beliau tidak lantas membawa mentah-mentah budaya Arab ke Indonesia. Bertahun-tahun belajar dan tinggal di Arab Saudi, tetapi tetap menjadi orang Indonesia. Berperilaku dan berpakaian sebagai orang Indonesia. Dalam banyak hal yang sangat mendasar bahkan beliau mengkritik tradisi dan pemikiran Islam yang tumbuh di Saudi Arabia, yang dikenal literalistik dan kurang menghargai tradisi. Kiai Hasyim dan juga kiai-kiai lain yang lama belajar di Saudi Arabia dan Timur Tengah tidak mempromosikan pakaian gamis model Arab. Mereka hanya mengenakan pakaian gamis sewaktu shalat saja. Tetapi ketika ke luar rumah, semuanya berpakaian ala Indonesia.
Kita juga bisa belajar pada Bung Hatta yang lama tinggal di Eropa, tetapi tetap menjadi orang Indonesia. Menjaga dan memperjuangkan kepribadian Indonesia. Meski lama tinggal di Barat, mendalami ilmu dari Barat, tetapi beliau berani berkonfrontasi dengan Barat ketika kekuatan Barat merugikan bangsanya sendiri.
Potret kedua tokoh besar Indonesia dapat kita jadikan sebagai cermin dalam berislam. Berislam yang tumbuh dalam kultur Indonesia seyogyanya sesuai dengan budaya Indonesia, bukan yang kearab-araban atau kebarat-baratan. Sekarang ini yang dibutuhkan adalah Islam yang mampu berinteraksi dengan budaya Indonesia. Islam semacam inilah yang mampu menghadirkan interaksi kondusif dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang multikultural.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Komentar anda sangat saya hargai.