Sabtu, 31 Oktober 2026

Shalat Jumat di Masjid Al-Alam Kendari


Ngainun Naim

 

Tepat pukul 11.00 WITA sesi yang saya isi diakhiri. Sesi selanjutnya diisi oleh Corazon Lepago Ocden, Ph.D, seorang fellow researcher dari Cordielerra Career Development College Philipina.

Saya segera beranjak keluar ruangan. Di depan kantor FTIK UIN Kendari, Mas Dillah sudah siap. Dia terlihat keren dan shaleh dengan kopiahnya.

Agenda kami adalah shalat jumat di Masjid Al-Alam Kendari. Masjid ini cukup terkenal dan menjadi ikon Kendari. Masjid yang lokasinya di bibir pantai Kota Kendari tersebut dikenal juga dengan nama Masjid Terapung. Mungkin karena posisi masjid yang ada di atas laut.

Perlahan mobil keluar dari kampus UIN Kendari dan menyusuri jalanan kota yang cukup terik. Kemarau tahun ini cukup panjang. Belum ada hujan sama sekali.

Suasana belum terlalu banyak jamaah saat kami sampai di masjid. Saya segera mengambil air wudhu lalu masuk masjid.

Tidak sampai 20 menit adzan dilantunkan. Saya amati ternyata separuh masjid telah terisi oleh jamaah.

Ada hal menarik dalam khotbah jumat yang saya catat yaitu tema yang dibahas. Khatib menyampaikan bahwa kemarau sekarang ini telah berlangsung cukup lama. Suasana terasa sangat terik. Ada banyak efek yang dirasakan bersamaan dengan kemarau yang sedemikian panjang. Air semakin sulit. Debit air di berbagai tempat surut. Penghasilan nelayan berkurang.



Khatib mengidentifikasi berbagai implikasi dari kondisi ini. Selanjutnya khatib mengajak jamaah untuk menjadikan fenomena kemarau panjang ini sebagai bahan muhasabah. Melalui cara semacam ini diharapkan kita tidak berputus asa karena kita memiliki Allah.

Dalam kemarau panjang, ada ujian dan hikmah. Ujian bagi kita untuk menjalani kehidupan yang tidak selalu mudah. Hikmah karena di dalamnya ada aneka pelajaran kehidupan.

Khatib menjelaskan bahwa usaha manusia semata tidak cukup untuk menghadapi keadaan semacam ini. Kita butuh Allah. Sebagai orang beriman, kita harus menjadikan Allah sebagai titik orientasi semua hal.

Hujan sesungguhnya merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Namun karena keserakahan manusia yang tidak arif mengelola alam, hujan kadang berubah menjadi bencana.

Realitas kemarau tidak boleh disikapi dengan keluh kesah. Juga jangan pasrah tanpa melakukan apa pun. Khatib menjelaskan bahwa pasrah pada musibah itu sikap orang lemah. Sebagai orang beriman, doa harus terus dipanjatkan agar Allah menurunkan rahmat.

Selain doa, harus juga diikuti dengan melakukan kebaikan. Kebaikan Allah yang tidak dibalas dengan kebaikan sesama manusia bisa menjadi sebab kemarau.

Saya merenungkan konteks pernyataan terakhir ini. Tetiba saya teringat bagaimana bumi Sulawesi digali seolah tanpa kendali. Aneka tambang tersebar di berbagai wilayah. Apakah perilaku mereka sejalan dengan topik yang sedang dibahas khatib?

Menurut saya, tema khotbah kali ini kontekstual. Tentu saja tidak semua yang disampaikan oleh khatib saya setuju. Ada beberapa bagian yang perlu dikritisi. Namun pembahasan tema yang sejalan dengan realitas yang tengah berlangsung terasa lebih membumi.

Usai shalat jumat, saya amati sekeliling masjid. Di kejauhan, laut hijau terentang. Sungguh sebuah pemandangan yang indah. Di sisi yang lain, gunung terlihat rimbun meskipun konon di dalamnya tidak lagi utuh karena tambang.

Satu demi satu jamaah meninggalkan masjid. Saat keluar masjid, saya bersua Mas Dillah. Saya ajak swafoto sebagai kenangan.

 

Surabaya, 30 Oktober 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Komentar anda sangat saya hargai.