Tepat pukul 11.00 WITA sesi yang saya isi diakhiri. Sesi
selanjutnya diisi oleh Corazon Lepago Ocden, Ph.D, seorang fellow researcher
dari Cordielerra Career Development College Philipina.
Saya segera beranjak keluar ruangan. Di depan kantor FTIK
UIN Kendari, Mas Dillah sudah siap. Dia terlihat keren dan shaleh dengan
kopiahnya.
Agenda kami adalah shalat jumat di Masjid Al-Alam
Kendari. Masjid ini cukup terkenal dan menjadi ikon Kendari. Masjid yang
lokasinya di bibir pantai Kota Kendari tersebut dikenal juga dengan nama Masjid
Terapung. Mungkin karena posisi masjid yang ada di atas laut.
Perlahan mobil keluar dari kampus UIN Kendari dan
menyusuri jalanan kota yang cukup terik. Kemarau tahun ini cukup panjang. Belum
ada hujan sama sekali.
Suasana belum terlalu banyak jamaah saat kami sampai di
masjid. Saya segera mengambil air wudhu lalu masuk masjid.
Tidak sampai 20 menit adzan dilantunkan. Saya amati
ternyata separuh masjid telah terisi oleh jamaah.
Ada hal menarik dalam khotbah jumat yang saya catat yaitu
tema yang dibahas. Khatib menyampaikan bahwa kemarau sekarang ini telah berlangsung
cukup lama. Suasana terasa sangat terik. Ada banyak efek yang dirasakan
bersamaan dengan kemarau yang sedemikian panjang. Air semakin sulit. Debit air
di berbagai tempat surut. Penghasilan nelayan berkurang.
Khatib mengidentifikasi berbagai implikasi dari kondisi
ini. Selanjutnya khatib mengajak jamaah untuk menjadikan fenomena kemarau
panjang ini sebagai bahan muhasabah. Melalui cara semacam ini diharapkan
kita tidak berputus asa karena kita memiliki Allah.
Dalam kemarau panjang, ada ujian dan hikmah. Ujian bagi
kita untuk menjalani kehidupan yang tidak selalu mudah. Hikmah karena di
dalamnya ada aneka pelajaran kehidupan.
Khatib menjelaskan bahwa usaha manusia semata tidak cukup
untuk menghadapi keadaan semacam ini. Kita butuh Allah. Sebagai orang beriman,
kita harus menjadikan Allah sebagai titik orientasi semua hal.
Hujan sesungguhnya merupakan bentuk kasih sayang Allah
kepada hamba-Nya. Namun karena keserakahan manusia yang tidak arif mengelola
alam, hujan kadang berubah menjadi bencana.
Realitas kemarau tidak boleh disikapi dengan keluh kesah.
Juga jangan pasrah tanpa melakukan apa pun. Khatib menjelaskan bahwa pasrah
pada musibah itu sikap orang lemah. Sebagai orang beriman, doa harus terus
dipanjatkan agar Allah menurunkan rahmat.
Selain doa, harus juga diikuti dengan melakukan kebaikan.
Kebaikan Allah yang tidak dibalas dengan kebaikan sesama manusia bisa menjadi
sebab kemarau.
Saya merenungkan konteks pernyataan terakhir ini. Tetiba
saya teringat bagaimana bumi Sulawesi digali seolah tanpa kendali. Aneka
tambang tersebar di berbagai wilayah. Apakah perilaku mereka sejalan dengan
topik yang sedang dibahas khatib?
Menurut saya, tema khotbah kali ini kontekstual. Tentu saja
tidak semua yang disampaikan oleh khatib saya setuju. Ada beberapa bagian yang
perlu dikritisi. Namun pembahasan tema yang sejalan dengan realitas yang tengah
berlangsung terasa lebih membumi.
Usai shalat jumat, saya amati sekeliling masjid. Di
kejauhan, laut hijau terentang. Sungguh sebuah pemandangan yang indah. Di sisi
yang lain, gunung terlihat rimbun meskipun konon di dalamnya tidak lagi utuh
karena tambang.
Satu demi satu jamaah meninggalkan masjid. Saat keluar
masjid, saya bersua Mas Dillah. Saya ajak swafoto sebagai kenangan.
Surabaya, 30 Oktober 2026


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Komentar anda sangat saya hargai.