Senin, 14 September 2026

Kemajuan dan Titik Akhir

Ngainun Naim

 

Catatan ini merupakan refleksi atas kegiatan pembukaan Pelatihan Kader Lanjut (PKL) yang dilaksanakan oleh PC PMII Tulungagung pada Hari Minggu sore tanggal 13 September 2026. Dalam kegiatan tersebut saya mencatat banyak hal menarik dari para sahabat, baik dalam perbincangan maupun dalam sambutan demi sambutan.

Saya datang ke lokasi sekitar 14.00 WIB. Sesaat kemudian satu demi satu undangan lain datang, termasuk Ketua Umum IKA PMII Tulungagung, H. Khoiruddin Abbas, M.Si. Seperti biasa, begitu datang beliau langsung meminta difoto.

Kami semua tersenyum. Saya pun nyeletuk. “Jika dalam filsafat ada Cogito Ergo Sum yang artinya aku berpikir maka aku ada, bagi Cak Din berlaku Potographo Ergo Sum yang artinya aku berfoto maka aku ada”.

Tawa kami pun pecah. Sesungguhnya hal-hal semacam ini yang mengesankan. Saling gojlok namun sesungguhnya kami saling mendukung satu sama lain. Keutuhan organisasi, berdasarkan riset yang pernah saya baca, dipengaruhi oleh salah satunya tradisi humor.

Pada sesi acara, banyak hal menarik yang saya catat. Ketua Umum PC PMII Tulungagung, M. Ahsanur Rizqi, misalnya menyampaikan bahwa kegiatan PKL ini sangat penting. Melalui kegiatan ini diharapkan melahirkan kader PMII yang berkualitas.

Hal yang sama juga disampaikan oleh beberapa Sahabat lain yang memberikan sambutan. Substansinya adalah acara PKL ini penting dalam konteks keberlangsungan organisasi.

Hal lain yang juga menjadi topik bahasan adalah kesiapan menghadapi dinamika kehidupan yang semakin hari semakin kompleks. Pembahasan tentang topik ini penting sebagai pengetahuan dan juga bahan untuk menyusun langkah dalam menghadapi masa depan.

Perspektif M. Hasbullah terkait masa depan penting sebagai bahan untuk memperkaya wawasan. Menurut Hasbullah, masa depan memiliki beberapa kriteria, antara lain, hiperkompetisi, suksesi revolusi teknologi, dislokasi, dan konflik sosial. Satu-satu cara untuk menghadapinya adalah dengan kreativitas (M. Hasbullah, 2015).

Coba cermati beberapa kriteria di atas. Di masa depan, bukan hanya kompetisi tetapi hiperkompetisi. Ini berarti kompetisi tingkat tinggi dan sangat ketat.

Teknologi telah mengalami perkembangan yang sangat cepat. Perkembangan ini harus dipahami dan ditentukan respon aktif kreatifnya.

Dislokasi adalah kondisi ketika seseorang mengalami persoalan karena terasing dengan keadaan. Jika ini tidak diatasi bisa menimbulkan kondisi jiwa tidak sehat. Juga bisa berimplikasi pada konflik sosial.

Pada titik inilah maka kita perlu ikut memberikan kontribusi. Kondisi kehidupan sosial kemasyarakatan kita yang sekarang ini penuh persoalan sangat mungkin karena kita tidak ikut berkontribusi memberikan solusi sesuai dengan kapasitas kita masing-masing (Azra, 2020).

Kata kunci yang diperlukan adalah kreativitas. Tanpa kreativitas, tantangan dalam kehidupan semakin berat. Justru karena itulah PKL bisa diposisikan sebagai media menyemai benih-benih kreativitas.

Namun demikian ber-PMII itu tidak selamanya. Kaderisasi itu harus jelas ukurannya. Ini penting agar jalan hidup tidak abstrak tetapi konkrit dan terukur. Dalam bahasa Gus Fahmi Arafat, proses itu harus ada titik akhirnya. Begitu.

 

Tulungagung, 14-9-2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Komentar anda sangat saya hargai.