Kamis, 29 Juni 2023

Guru, Tradisi Belajar, dan Kualitas Pendidikan


 

Ngainun Naim

Dosen UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

 

Guru adalah kunci penting yang menentukan sukses dalam dunia pendidikan (Walace: 2014). Pernyataan ini menegaskan tentang posisi dan peranan guru yang sangat penting. Zaman boleh berubah namun peranan sentral guru tidak akan bisa tergantikan. Terkurangi mungkin iya, tetapi tergantikan jelas tidak.

Kunci memiliki fungsi untuk membuka. Kunci pintu untuk membuka pintu. Kunci sepeda motor untuk menyalakan mesin. Demikian juga dengan kunci-kunci yang lainnya.

Sebagaimana kunci, guru memiliki fungsi membuka pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran para siswanya tentang ilmu pengetahuan, sikap hidup, dan keterampilan. Peran ini tidak mungkin digantikan semuanya oleh siapa pun atau apa pun karena dimensi manusia tidak mungkin ditransfer ke mesin. Fungsi sumber ilmu pengetahuan bisa digantikan oleh mesin, tetapi transformasinya dari sisi proses tidak bisa dialihkan ke mesin.

Sekarang ini perubahan tengah berlangsung dengan sangat cepat. Orang menyebut zaman ini sebagai zaman digital. Pada zaman ini, sebagaimana ditulis Hardiman (2021: 38), manusia telah mengalami perubahan secara mendasar. Perubahan ini disebut Hardiman sebagai digital-evolusioner. Jadi manusia sekarang bukan lagi sebagai homo sapiens, tetapi telah bertransformasi menjadi homo digitalis. Pada karakter baru ini, eksistensi kapasitas pikiran manusia dipengaruhi oleh telepon pintar. Di telepon pinter bukan hanya tersimpan data tubuh tapi juga data pikiran. Pikiran kini mengerucut ke jari. 

Manusia sekarang, khususnya generasi muda, sudah tergantung kepada telepon seluler. Aktivitas sejak bangun tidur sampai tidur kembali tidak bisa lepas dari telepon genggam. Jika telepon hilang atau rusak, kehidupan rasanya kurang sempurna.

Apakah manusia sekarang ini semakin pintar? Jawabannya relatif dan tidak bisa digeneralisasi. Namun demikian realitas perubahan ini semestinya diketahui, dipahami, dan disadari oleh semua pihak, termasuk yang bergelut di dunia pendidikan. Sikap-sikap semacam ini penting sebagai dasar untuk memberikan respon yang aktif dan kreatif.

Sumber-sumber belajar sekarang ini semakin variatif dan canggih. Siapa pun yang mau dan mampu memanfaatkan teknologi secara maksimal untuk kepentingan peningkatan kualitas diri akan bisa menjadi manusia yang unggul. Jika murid lebih rajin mengakses informasi, bisa jadi ia lebih dulu tahu dibandingkan guru-gurunya.

Realitas inilah yang tampaknya menjadi salah satu alasan tentang keraguan terhadap posisi dan fungsi guru di era digital ini. Siswa sekarang lebih akrab dengan teknologi, sementara gurunya lahir di zaman ketika teknologi belum sedemikian canggih. Ada jurang generasi yang melahirkan respon berbeda terhadap teknologi.

Zaman bisa saja mengalami perubahan secara cepat. Namun perhatian terhadap aspek pendidikan harus menjadi prioritas. Pendidikan, sebagaimana dijelaskan oleh Tatang Muttaqin (2021) merupakan kunci penting untuk kemajuan masyarakat Indonesia. Posisi pendidikan Indonesia sekarang ini, khususnya dari aspek mutu, masih tertinggal dibandingkan negara-negara lain. Aspek ini semestinya menjadi tantangan sekaligus titik pijak untuk melakukan langkah-langkah kreatif demi kemajuan pendidikan Indonesia.

Pada titik inilah maka yang penting diperkuat adalah tradisi belajar. Ini berlaku buat guru (juga dosen) dan siswa. Guru yang tidak mau belajar akan menjadi manusia beku (Natsir: 2004). Ia akan ketinggalan kesempatan untuk menambah wawasan dan pengetahuannya. Sangat mungkin ia akan kalah dengan para siswanya yang lebih mudah merespon dinamika dan perkembangan dunia digital.

Menurut Hasbullah (2015), salah satu karakteristik kehidupan di masa depan adalah hiperkompetisi. Persaingan berlangsung dengan sangat ketat. Realitas semacam ini berlangsung di hampir semua bidang kehidupan, termasuk bidang pendidikan.

Teknologi, khususnya teknologi informasi, berkembang dengan sangat cepat. Produk-produknya sangat bervariasi. Produk teknologi telah memudahkan kehidupan sekaligus menghadirkan ekses yang tidak sederhana.

Aspek lainnya adalah dislokasi. Ketika teknologi belum sedemikian canggih, lokasi adalah kunci penting. Seiring perkembangan zaman, banyak desa yang bermetamorfosis menjadi kota. Sarana prasarana dibangun di banyak tempat. Akses tidak lagi sulit. Jaringan internet masuk. Implikasinya, desa dan kota semakin mendekat dalam makna fisik dan substantif.

Berbagai kemajuan tersebut tidak semuanya menghadirkan sisi positif. Ekses negatifnya juga terbuka lebar. Salah satunya adalah konflik sosial. Ini menjadi tantangan bagi guru. Salah satu cara efektif untuk menghadapinya adalah dengan kreativitas. Kreativitas semakin terbuka peluangnya dengan belajar dan terus belajar.

Jika guru mau terus belajar, dunia pendidikan akan tergerak maju. Jika kini dunia pendidikan Indonesia belum maju, penyebab yang signifikan adalah karena guru (dan dosen) masih harus meningkatkan kualitas dirinya. Usaha-usaha kreatif ke arah ini harus dilakukan agar dunia pendidikan Indonesia semakin hari semakin maju.

 

Trenggalek, 29 Juni 2023

 

 

Daftar Bacaan

 

F. Budi Hardiman, Aku Klik Maka Aku Ada, Manusia dalam Revolusi Digital, Yogyakarta: Kanisius, 2021

H.M. Hasbullah, Kebijakan Pendidikan dalam Perspektif Teori, Aplikasi, dan Kondisi Objektif Pendidikan di Indonesia, Jakarta: Rajawali Pers, 2015.

Lies Marcos Natsir, “Baca Buku Agar Tak Beku…”, dalam St. Sularto, dkk., (ed), Bukuku Kakiku, Jakarta: Gramedia, 2004.

Tatang Muttaqin, Mengelola Harapan, Tangerang Selatan: Kini Media, 2021

Wallace, Carolyn S. "Overview of the role of teacher beliefs in science education." The Role of Science Teachers' Beliefs in International Classrooms. Brill, 2014. 17-31.

 

 


2 komentar:

  1. Salah satu yang saya khawatirkan di abad digital dan media sosial adalah anak-anak sangat tergantung pada smartphone. Berteman di dunia maya, berinteraksi di dunia maya, bermain di dunia maya, menghabiskan waktu senggang di dunia maya. Itu bisa mempengaruhi kecerdasan emosional (Emotional Quotient) karena anak cenderung mengabaikan orang-orang disekitarnya. Bahkan saat makan bersama, mata dan pikirannya selalu sibuk dengan smartphpne.
    Tidak seindah jaman saya saat bermain, langsung bertatap muka dengan teman-teman.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat Pak. Itu memang kekuatiran umum kalangan terdidik. KIta mesti melakukan langkah-langkah yang mampu kita lakukan agar ketergantungan itu berkurang

      Hapus

Terima kasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Komentar anda sangat saya hargai.