Minggu, 03 Juli 2016

Semarak Menyambut Lebaran



Oleh Ngainun Naim


Ramadhan sudah berada di ujung. Tinggal 1 atau 2 hari lagi kita menjalankan ibadah puasa. Perjuangan satu bulan akhirnya tertunai sudah. Tidak ada kata yang patut diucap melainkan puji syukur kepada Allah Swt. Jika bukan karena anugerah dan perkenan-Nya, kita tidak mungkin bisa menjalankan ibadah ini sebaik mungkin.

Di ujung ramadhan ini, ada baiknya kita melakukan evaluasi diri. Evaluasi untuk melihat apakah ibadah sebulan yang kita lakukan sudah berjalan secara maksimal atau belum. Jika sudah maksimal, tentu itu yang diharapkan. Tetapi jika belum, masih ada sisa hari yang dapat dimanfaatkan sebaik mungkin.
Hari ini suasananya sudah seperti suasana lebaran. Di kampung saya, suasana menyambut lebaran terasa dalam beberapa hari ini terakhir ini. Setiap gang membuat umbul-umbul layaknya menyambut bulan Agustus. Tidak hanya itu, di malam hari juga di pasang lampu warna-warni. Suasananya sungguh indah dan penuh warna.

Di pintu masuk gang dibuat gapura mini dengan banner ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Tujuannya jelas yaitu sebagai wujud partisipasi bersama menyambut datangnya bulan yang penuh kegembiraan, yaitu bulan syawal.
Suasana semacam ini sesungguhnya belum terlalu lama. Seingat saya baru dua atau tiga tahun terakhir. Entah siapa yang memulainya, saya tidak ingat persis.

Bagi saya, penyambutan semacam ini tetap bermanfaat. Memang jika ditinjau dari sudut pandang ekonomi akan dinilai sebagai sebuah pemborosan. Tetapi tidak semua manfaat itu bisa diukur dari sisi ekonomi. Ada manfaat sosial, budaya, agama, dan banyak manfaat yang lainnya. Jadi kemeriahan menyambut kedatangan lebaran ini sebaiknya dinilai dengan sudut pandang positif. Dengan cara demikian, kita tidak akan terjebak pada sikap saling menyalahkan. Sikap yang terbaik saya kira mencari sisi positif atas setiap fenomena.

Trenggalek, 3 Juli 2016

9 komentar:

  1. Sepertinya latar blognya lebih cerah bila berwarna putih, seperti sebelum2nya. Lbh enak membacanya. Maaf Pak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas. Terima kasih atas masukannya. Soal menulis, saya hanya berusaha menulis semampu saya. Terima kasih berkenan berkunjung di blog sederhana ini.

      Hapus
  2. Sy banyak belajar dari tulisan Bapak, termasuk diksinya. Lebih2 pula semangat menulisnya yg istikamah

    BalasHapus
  3. Bagaimanapun lebaran tetap lebih semarak dari tahun sebelumnya. Setuju sekali artikelnya, ini bagian dari syiar Islam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih bnyak Bu Ima atas dukungannya.

      Hapus
  4. Selamat menyambut semarak lebaran Pak. Naim...d tempat saya biasanya menanamkan pohon pisang di depan setiap rumah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat lebaran juga buat Eka Sutarmi. Tanam pisang juga ada di tempat saya. Posisinya ada di depan musholla.

      Hapus
  5. wah, di tempat saya kok gak sesemarak ituu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tempat saya dulu juga belum semeriah itu Bu. Sekarang saja setelah anak-anak muda bekerja sama untuk memeriahkannya. Bisa dicoba juga di Jogja Bu he he he.

      Hapus

Terima kasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Komentar anda sangat saya hargai.